PSSI, Jangan Hanya Mencari Pemain Hebat—Rawat Mereka Sampai Menjadi Generasi Emas
Oleh: DIAMTAMPAKATA
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya setiap kali Timnas Indonesia gagal mencapai target: sebenarnya di mana letak masalah sepak bola Indonesia?
Apakah selalu pelatih? Apakah pemain kurang bagus? Apakah wasit? Atau jangan-jangan ada persoalan yang jauh lebih dalam, yaitu sistem pembinaan pemain dari junior menuju senior?
Saya tidak ingin asal menuduh PSSI tidak bekerja. Justru sebaliknya. Saya percaya orang-orang di dalam PSSI pasti bekerja, membuat program, melakukan scouting, mengurus tim nasional, dan mengeluarkan banyak tenaga serta biaya.
Tetapi ada satu hal yang harus berani kita katakan:
Bekerja keras belum tentu berarti bekerja dengan sistem yang paling tepat.
Kalau sebuah sistem sudah dijalankan bertahun-tahun tetapi hasilnya belum sesuai harapan, maka yang harus dievaluasi bukan hanya orangnya. Sistemnya juga harus dipertanyakan.
Indonesia Sebenarnya Punya Bukti Bahwa Kita Memiliki Bakat
Kita tidak bisa mengatakan Indonesia tidak mempunyai pemain berbakat.
Tim nasional kelompok umur Indonesia pernah menjadi juara AFF. Generasi Evan Dimas dan kawan-kawan adalah salah satu contohnya. Begitu juga beberapa generasi muda setelahnya.
Pertanyaannya kemudian sederhana:
Setelah mereka menjadi juara junior, ke mana mereka?
Tentu kita tidak berharap seluruh 23 pemain dari sebuah skuad junior akhirnya menjadi pemain Timnas senior. Ada yang cedera, tidak berkembang, kalah bersaing, atau kariernya berhenti. Itu normal.
Tetapi kalau dari satu generasi berisi sekitar 23 pemain hanya sebagian kecil yang akhirnya mencapai level senior, kita harus bertanya:
Apa yang terjadi pada pemain-pemain lainnya selama perjalanan mereka dari usia muda menuju sepak bola senior?
Juara U-16 Bukan Akhir Perjalanan
Kesalahan besar yang mungkin terjadi dalam pembinaan adalah menganggap sebuah turnamen junior sebagai tujuan.
Padahal ketika seorang pemain berumur 16 tahun menjadi juara, sebenarnya perjalanan panjangnya baru dimulai.
Seharusnya setelah pemain selesai dari U-16, ada sistem yang terus memantau:
U-16 → U-19 → U-20 → U-23 → Klub Senior → Timnas Senior.
Bukan berarti pemain harus selalu masuk tim nasional. Tetapi jangan sampai mereka hilang dari radar.
Bayangkan ada 23 pemain yang menjadi juara. PSSI seharusnya lima tahun kemudian mampu membuka database dan menjawab:
- Pemain nomor 1 sekarang bermain di mana?
- Pemain nomor 2 bagaimana perkembangannya?
- Kenapa pemain nomor 3 jarang mendapat menit bermain?
- Apakah pemain nomor 4 mengalami cedera?
- Apakah pemain nomor 5 sebenarnya berkembang tetapi tidak mendapatkan kesempatan?
- Mengapa pemain nomor 6 berhenti berkembang?
Kalau semuanya tercatat, kita bisa mengetahui di mana sistem pembinaan mengalami kegagalan.
Jangan Biarkan Pemain Berbakat Hilang Karena Masalah Klub
Di sinilah saya berharap PSSI bisa lebih aktif.
Bukan menjadi agen pemain. Bukan mengambil alih klub. Tetapi menjadi jembatan perkembangan pemain.
Misalnya ada pemain muda yang mempunyai potensi besar tetapi tidak mendapatkan menit bermain di klubnya.
PSSI bisa membantu membuka komunikasi dengan klub. Jika diperlukan, bisa memberikan rekomendasi kepada klub lain atau membantu mencari jalan agar pemain tersebut mendapatkan pengalaman bermain yang cukup.
Keputusan tetap berada pada pemain dan klub. Tetapi federasi tidak boleh hanya berkata:
"Itu urusan klub."
Sebab pemain tersebut adalah bagian dari investasi sepak bola Indonesia. Kalau bakatnya hilang, Timnas juga yang kehilangan.
PSSI Harus Mengetahui Level Klub Indonesia Sebenarnya
Kita juga harus jujur melihat kualitas kompetisi kita.
Kalau klub-klub Indonesia sudah secara konsisten menjadi raksasa Asia dan rutin berprestasi di kompetisi Asia, mungkin pembinaan nasional bisa lebih banyak bergantung kepada klub.
Tetapi kenyataannya belum seperti itu.
Maka Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih serius.
Pemain yang sudah bagus di klub harus mendapatkan pembinaan tambahan di tingkat nasional.
Bukan untuk menggantikan klub, tetapi untuk melengkapi kekurangan yang belum bisa diberikan oleh semua klub.
PSSI harus mengetahui apa yang belum didapatkan pemain muda di klub: kualitas latihan, menit bermain, nutrisi, sport science, analisis pertandingan, pendidikan taktik, pembinaan mental, atau kualitas kompetisi.
Kalau sudah diketahui, barulah program nasional bisa dibuat berdasarkan kebutuhan nyata.
Jangan Hanya Sibuk Mencari Pemain di Luar Negeri
Saya tidak menolak scouting diaspora. Justru pemain keturunan Indonesia yang memiliki kualitas tinggi dan memenuhi persyaratan bisa menjadi tambahan yang sangat berharga bagi Timnas.
Tetapi jangan sampai terjadi ketidakseimbangan.
Kita jangan sampai terlalu sibuk mencari pemain yang sudah jadi di luar negeri, sementara pemain yang kita temukan dan kita bina sendiri di Indonesia justru kehilangan jalan menuju senior.
Idealnya dua jalur berjalan bersama:
Scouting diaspora + pembinaan pemain lokal.
Diaspora adalah tambahan. Bukan pengganti pembinaan nasional.
Pelatih Sehebat Guardiola Pun Tidak Bisa Bekerja Tanpa Bahan Baku yang Tepat
Ini juga yang sering dilupakan oleh suporter.
Ketika Timnas gagal, nama pelatih menjadi sasaran pertama. Kemudian muncul kalimat: "Ganti pelatih!"
Padahal pelatih hanya bisa bekerja dengan pemain yang tersedia.
Pelatih baru datang ke Indonesia dan belum tentu mengenal seluruh pemain Indonesia. Dia akan bergantung pada data, scouting, dan rekomendasi yang tersedia.
Karena itu, sistem scouting nasional harus menyediakan pilihan pemain yang luas dan berkualitas, bukan hanya pemain yang sudah terkenal.
Jangan Menyalahkan Pelatih Setiap Kali Timnas Gagal
Pelatih bisa salah. Pemain bisa salah. PSSI juga bisa salah. Wasit juga bisa membuat keputusan kontroversial.
Tetapi kalau kita selalu mengganti pelatih tanpa memperbaiki sistem di belakangnya, kita hanya akan mengulang masalah yang sama dengan orang yang berbeda.
Pelatih datang. Pelatih pergi. Pemain berganti. Tetapi sistem tetap sama.
Apa yang berubah?
PSSI Perlu Berani Mengukur Hasil Pembinaannya
Saya ingin melihat PSSI tidak hanya mengatakan:
"Kami sudah bekerja maksimal."
Masyarakat membutuhkan indikator keberhasilan.
- Berapa pemain U-16 yang menjadi profesional?
- Berapa yang naik ke U-19?
- Berapa yang masuk U-23?
- Berapa yang mencapai Timnas senior?
- Berapa yang bermain di kompetisi Asia?
- Mengapa sebagian pemain berhenti berkembang?
- Apa yang dilakukan ketika masalah ditemukan?
Kalau PSSI bisa menjawab semuanya dengan data, masyarakat akan lebih mudah percaya.
Namun jika hasilnya belum baik, jangan takut mengatakan:
"Sistem kami belum berhasil. Kami harus memperbaikinya."
Mengakui sistem belum efektif bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda organisasi yang mau berkembang.
PSSI Jangan Takut Meminta Kritik
Saya berharap suatu hari PSSI berkata kepada masyarakat:
"Kami sudah menjalankan sistem ini, tetapi hasilnya belum maksimal. Berikan kami kritik dan saran."
Libatkan mantan pemain, pelatih, akademi sepak bola, klub, scout, analis, guru olahraga, orang tua pemain, pemain muda, dan masyarakat sepak bola Indonesia.
Tidak semua kritik harus diterima. Tetapi semua kritik bisa menjadi bahan untuk mencari masalah.
Indonesia Tidak Kekurangan Bibit. Kita Mungkin Kekurangan Sistem yang Menjaga Bibit Tersebut
Kalau Indonesia menemukan 23 pemain berbakat pada usia 16 tahun, jangan hanya bangga ketika mereka mengangkat trofi.
Tugas sebenarnya dimulai setelah trofi itu diangkat.
Rawat mereka. Pantau mereka. Bantu mereka. Cari tahu masalah mereka. Jaga perkembangan mereka. Jaga agar mereka mendapatkan menit bermain. Jaga chemistry generasinya.
Dan ketika mereka berumur 21–23 tahun, lihat berapa banyak yang akhirnya siap menjadi pemain Timnas senior.
Kalau bertahun-tahun kemudian hanya sedikit yang berhasil, jangan langsung mengatakan:
"Pemainnya memang tidak bagus."
Tanyakan dulu:
"Apakah selama bertahun-tahun itu kita benar-benar menjaga mereka?"
PSSI Harus Berani Memberikan Obat yang Lebih Kuat
Saya menggunakan istilah sederhana.
Kalau sebuah penyakit sudah lama tidak sembuh dengan obat yang sama, bukan berarti pasien tidak berobat. Mungkin dia memang sudah berobat. Tetapi mungkin obatnya tidak cocok.
Sepak bola Indonesia menurut saya juga begitu.
Kita tidak perlu mengatakan PSSI tidak bekerja.
Kita perlu mengatakan:
"Kalau cara yang selama ini dilakukan belum membawa Indonesia ke level yang diinginkan, mari cari cara baru."
Bukan karena PSSI tidak bekerja, tetapi karena Indonesia membutuhkan hasil yang lebih baik.
Kalau obat biasa belum menyembuhkan, mungkin diperlukan "extra dosis" berupa evaluasi sistem yang lebih serius, data yang lebih terbuka, pemantauan pemain jangka panjang, dan keberanian mengubah cara lama.
Jangan Membangun Timnas Hanya untuk Satu Generasi
Timnas yang kuat bukan dibangun dalam satu periode kepengurusan. Ia harus dibangun turun-temurun.
Hari ini generasi U-16. Besok U-19. Kemudian U-23. Akhirnya Timnas senior.
Pada saat generasi pertama naik senior, generasi kedua sudah berada di belakangnya. Generasi ketiga sedang tumbuh. Generasi keempat sedang ditemukan.
Itulah mesin sepak bola nasional yang sebenarnya.
Kalau sistem seperti ini berjalan konsisten selama 10–15 tahun, Indonesia tidak lagi terlalu bergantung kepada siapa pelatihnya.
Pelatih boleh berganti. Pemain boleh berganti. Tetapi fondasi Timnas tetap hidup.
Kritik Ini Bukan Kebencian kepada PSSI
Saya menulis kritik ini bukan karena ingin melihat PSSI gagal. Justru sebaliknya.
Saya ingin melihat Indonesia suatu hari tidak lagi berkata:
"Kapan Indonesia juara AFF?"
Tetapi:
"Indonesia sudah punya sistem yang membuat kita percaya bahwa juara hanyalah soal waktu."
Saya juga tidak mengatakan PSSI tidak bekerja.
Saya hanya ingin bertanya:
Apakah sistem yang selama ini dijalankan benar-benar sistem terbaik untuk kondisi sepak bola Indonesia?
Kalau jawabannya iya, tunjukkan hasilnya.
Kalau jawabannya belum, mari kita cari cara baru.
Karena Indonesia memiliki jutaan anak yang ingin bermain sepak bola. Indonesia memiliki bakat. Indonesia memiliki suporter. Indonesia memiliki klub. Indonesia memiliki pemain diaspora. Indonesia memiliki sumber daya.
Yang kita perlukan adalah sistem yang mampu menyambungkan semuanya menjadi satu perjalanan panjang menuju Timnas senior.
Dan akhirnya, pertanyaan terbesar kita bukan:
"Siapa pelatih Timnas berikutnya?"
Namun:
"Siapa yang memastikan seorang anak yang ditemukan sebagai bakat pada usia 16 tahun tidak hilang sebelum menjadi pemain senior?"
Kalau PSSI mampu menjawab pertanyaan itu dengan sistem yang nyata dan hasil yang terukur, saya yakin masyarakat akan memberikan dukungan.
Karena masyarakat sebenarnya tidak meminta kesempurnaan.
Masyarakat hanya ingin melihat bahwa setiap bibit terbaik Indonesia benar-benar dijaga sampai kesempatan terakhirnya untuk menjadi bintang.
🇮🇩 Garuda tidak kekurangan sayap. Yang kita perlukan adalah sistem yang memastikan setiap sayap yang tumbuh tidak patah di tengah jalan.
#TimnasIndonesia
#PSSI
#SepakBolaIndonesia
#GarudaIndonesia
#PembinaanPemain
#PemainMudaIndonesia
#GenerasiEmas
#TimnasSenior
#TimnasJunior
#SepakBolaNasional
#ScoutingIndonesia
#LigaIndonesia
#PSSIHarusBerbenah
#KritikMembangun
#IndonesiaJuara
Komentar