Entri yang Diunggulkan

EXCELLENT SERVICE

Inspirasi Pagi: Kekuatan Pelayanan Prima dan Motivasi yang Menyala Oleh: Eeng Kota Sanggau Tanggal: Senin, 28 April 2025 Di sebuah sudut kota Victoria, British Columbia, berdiri sebuah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang tidak biasa. Dimiliki oleh seorang pebisnis sekaligus motivator inspiratif bernama Dunsmuir, SPBU ini bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar, tetapi juga simbol pelayanan prima dan semangat kerja yang luar biasa. Kisahnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kerja keras, ketulusan, dan motivasi dapat mengubah pekerjaan sederhana menjadi batu loncatan menuju kesuksesan. Pelayanan yang Mengesankan di SPBU Dunsmuir Berbeda dengan kebanyakan SPBU di Amerika Serikat yang menerapkan sistem self-service , SPBU milik Dunsmuir menawarkan pengalaman pelayanan penuh. Setiap mobil yang datang disambut oleh empat pekerja muda yang bekerja dengan cekatan dan penuh semangat: Peke...

Mengalah untuk Tetap Mencintai

                   Epilog

Waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka. Ia hanya mengajarkan kita cara hidup berdampingan dengannya.

Ada nama yang tak lagi disebut, namun tetap tinggal di sudut hati terdalam. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Aku belajar bahwa mencintai bukan selalu tentang memiliki, dan melepaskan bukan berarti kalah. Kadang, itu adalah bentuk cinta paling jujur yang bisa dilakukan manusia.

Hidup terus berjalan. Hari demi hari berlalu dengan cerita baru, tawa baru, dan tanggung jawab yang harus dijaga.

Namun di antara semua itu, aku tahu— aku pernah mencintai dengan sungguh-sungguh. Dan itu cukup.



Bab 1: Hari Pertama, Ambisi Pertama

Hari itu adalah hari pertamaku bekerja di sebuah perusahaan finance di Kota Sanggau.
Seperti kebanyakan orang yang baru masuk kerja, dadaku penuh oleh antusias—semacam semangat 45 yang berdesak-desakan di hati. Campur aduk antara harapan, rasa ingin membuktikan diri, dan tekad yang tak ingin pulang dengan tangan kosong.

Kantor itu persis seperti bayanganku.
Dipenuhi wanita-wanita karier dengan pakaian formal elegan—rapi, wangi, dan penuh percaya diri. Setelan kantor memang punya sihirnya sendiri; entah bagaimana caranya, pakaian rapi selalu mampu menambah sepuluh persen ketampanan dan kecantikan dari wajah aslinya. Hehe.

Tapi jujur saja, bagiku itu bukan tujuan utama.
Bukan pula soal mata yang dimanjakan atau pesona sesaat. Lagipula, aku ini—kalau boleh percaya diri sedikit—sudah dianugerahi ketampanan dari lahir. Jadi, bukan itu yang kucari.

Yang kukejar hanya satu:
mengubah perekonomian keluargaku.
Dan itu mutlak—tak bisa ditawar, tak bisa ditunda.

Aku masuk sebagai pegawai outsourcing. Ada masa pelatihan tiga bulan. Jika performa bagus, aku bisa diangkat menjadi karyawan tetap. Bagi orang lain mungkin itu hanya status, tapi bagiku itu adalah pintu: pintu untuk mimpi yang lebih stabil, hidup yang lebih layak, dan senyum orang tua yang tak lagi dipaksa.

Hari-hari awal kuhabiskan di depan komputer.
Tiga bulan pertama terasa seperti pengamatan diam-diam. Aku memperhatikan rekan kerja—dari yang benar-benar cantik, sampai yang… merasa dirinya cantik. Hehe. Dunia kerja memang unik; kadang lebih menarik dari layar komputer yang kupandangi.

Aku belum tahu saat itu, bahwa di antara rutinitas, target, dan ambisi itu, semesta sedang menyiapkan sebuah pertemuan kecil—tenang, nyaris tak terasa—yang kelak akan tinggal lama di kepalaku.

Dan kisah itu… belum dimulai hari ini.


Bab 2: Waktu yang Diam-Diam Berjalan

Tanpa terasa, tiga bulan berlalu.
Hari-hariku mengalir di antara rutinitas dunia kerja—pagi di kantor, siang di lapangan. Perkenalan demi perkenalan kulewati, sebatas nama dan senyum profesional. Aku mulai terbiasa bergaul, baik dengan rekan lelaki maupun perempuan.

Banyak di antara mereka cantik, menarik perhatian, dan mudah membuat hati tergoda. Tapi entah kenapa, perasaanku tetap terjaga. Ada semacam rem halus di dalam dada yang selalu berbisik pelan: belum sekarang. Perjalanan ini masih panjang, dan ada tanggung jawab yang tak boleh kalah oleh rasa sesaat.

Aku datang ke tempat ini bukan untuk bermain perasaan.
Aku datang membawa harapan keluarga—dan itu terlalu berharga untuk ditukar dengan cerita yang belum tentu sampai tujuan.

Pagi itu, suasana kantor terasa sedikit berbeda.
Seperti biasa, kami berkumpul untuk briefing dan doa pagi. Setelah absen, kami mengambil posisi melingkar. BM berdiri di depan, mulai berbicara dengan nada yang lebih ceria dari biasanya.

Barulah aku menyadarinya.

Di depan, sebuah meja sudah disiapkan.
Di atasnya ada tumpeng kuning lengkap dengan lauk pauk. Penataannya rapi, sederhana, tapi hangat. Seketika suasana resmi berubah jadi akrab. Dari raut wajah orang-orang, aku tahu ini bukan briefing biasa.

Hari itu ternyata spesial.
Sebuah perayaan kecil—ulang tahun perusahaan. Tak besar, tak mewah, tapi cukup untuk membuat pagi terasa lebih hidup. Ada senyum, ada tawa kecil, dan ada rasa kebersamaan yang jarang muncul di hari kerja biasa.

Aku berdiri di barisan, menyimak, tanpa tahu bahwa di antara lingkaran itu, sepasang mata sedang mulai memperhatikanku dengan cara yang berbeda.

Dan sejak pagi itulah, tanpa kusadari, arah cerita pelan-pelan berubah.

Bab 3: Tumpeng Pertama

BM melanjutkan bicaranya dengan suara mantap.
Ia mengatakan bahwa tahun ini perusahaan mencatatkan profit yang luar biasa. Dan yang membuat semua orang tersenyum bangga, penyumbang terbesar datang dari cabang kami.

Tepuk tangan langsung pecah.
Riuh, ramai, dan jujur—bahagia. Senyum semringah terlihat jelas di wajah para karyawan. Ada rasa bangga menjadi bagian dari tempat ini, seolah kerja keras kami benar-benar diakui.

Namun BM belum selesai.

“Ada satu hal yang paling istimewa hari ini,” lanjutnya sambil tersenyum.
“Tumpeng pertama ini akan saya anugerahkan kepada seseorang dengan performa kinerja luar biasa. Tiga bulan berturut-turut selalu mencapai target. Dan pencapaian ini belum pernah terjadi selama saya bertugas di cabang ini.”

Ruangan mendadak hening, penuh rasa penasaran.

“Yaitu… Jazle.”

Sejenak aku terdiam.
Lalu tepuk tangan kembali menggema, lebih keras dari sebelumnya.

“Untuk Jazle, silakan maju ke depan dan berikan sambutan,” kata BM.

Aku melangkah ke depan.
Dengan perasaan campur aduk—bangga, gugup, dan ya… merasa paling ganteng hari itu. Hehe. Langkahku tegas, dadaku terasa penuh, bukan oleh kesombongan, tapi oleh rasa syukur.

Aku mengambil napas, lalu mulai berbicara.

“Terima kasih,” ucapku.
“Tentu pencapaian ini tidak lepas dari bimbingan mentor saya, atasan SPV, dan senshat yang selalu memberikan arahan, semangat, serta cara kerja yang benar sehingga saya bisa berada di titik ini.”

Aku menatap sekeliling, melihat wajah-wajah yang setiap hari bersamaku.

“Dan tentu saja, ini juga berkat motivasi dari semua teman-teman di sini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih.”

BM kemudian menyerahkan piring berisi potongan tumpeng pertama.
Aku menerimanya dengan kedua tangan, mengambil lauk pauk secukupnya, lalu kembali ke tempat semula aku berdiri.

Aku belum tahu saat itu…
bahwa di tengah tepuk tangan dan sorak bangga itu, ada sepasang mata yang tak hanya melihat prestasiku—tetapi juga diriku, dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Dan sejak detik itulah, sesuatu mulai bergerak pelan di antara kami.

Bab 4: Pandangan yang Diam-Diam

Hari-hari berlalu begitu cepat.
Kehidupan dunia kerja memang berbeda dari bayangan banyak orang. Bangun pagi, pulang malam—rutinitas yang oleh sebagian orang dianggap asyik, apalagi jika mata hanya memandang luarnya saja.

Pakaian rapi, kartu nama di saku, kantor ber-AC—semua itu sering membuat orang berpikir bahwa dunia perkantoran adalah dunia yang indah. Padahal di dalamnya, tekanan kerja, target, dan tuntutan performa datang silih berganti. Tidak semua yang terlihat rapi benar-benar ringan dijalani.

Hari itu seperti biasa adalah culture day.
Setelah doa pagi, akan ada permainan kelompok. Satu tim berisi tujuh sampai delapan orang, campuran antara lelaki dan perempuan. Tujuannya sederhana: membangun kebersamaan, katanya.

Aku maju untuk ikut bermain.
Memang dari dulu aku termasuk orang yang ceria, tapi tetap kalem. Tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak suka bersembunyi. Dalam permainan itu, aku berhasil menjadi juara dan menyumbang poin untuk tim kelompokku.

Di tim yang sama, ada juga seorang perempuan bernama Fitri.
Ia ikut maju dan sama-sama membawa kemenangan. Poin kami bertambah, suasana tim semakin hidup.

Saat diminta dua orang untuk maju ke babak berikutnya, aku maju—dan Fitri juga maju.
Entah kebetulan atau takdir kecil, akhirnya aku dan Fitri bermain bersama. Kami kompak, saling membaca gerakan, dan tanpa banyak bicara, berhasil menjadi juara. Poin tim kami kembali bertambah.

Setelah permainan selesai, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Ada getaran kecil yang sulit dijelaskan.

Aku merasa Fitri diam-diam mencuri pandang ke arahku.
Tatapannya singkat, tapi cukup jelas. Dan setiap kali mata kami bertemu, ia selalu tersenyum—senyum yang manis, tenang, dan entah kenapa terasa berbeda.

Aku mencoba menenangkan diri.
Mungkin ini hanya perasaanku. Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Bisa jadi semua itu tidak berarti apa-apa.

Namun hari itu, untuk pertama kalinya, aku pulang dengan satu pertanyaan kecil yang terus terulang di kepala:
atau mungkin… aku tidak sepenuhnya salah?

Bab 5: Kode yang Tak Pernah Diucapkan

Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Selama ini, berjumpa, bersapa, bahkan bersentuhan kecil dengan siapa pun tak pernah meninggalkan bekas di pikiranku. Semuanya berlalu begitu saja. Biasa. Datar.

Namun sejak permainan itu—sejak aku dan Fitri berdiri di tim yang sama—sesuatu berubah.

Perlahan tapi pasti.

Aku mulai menyadari bahwa Fitri itu cantik.
Bukan cantik yang mencolok, bukan pula yang memaksa mata untuk menoleh. Cantiknya tenang, tumbuh pelan-pelan, lalu tinggal. Bahkan saat bangun pagi, entah kenapa wajahnya sering muncul di benakku. Saat mandi pun bayangannya ikut menyusup, sampai aku tersenyum sendiri dan berbisik dalam hati, ini gila.

Bayangan itu seperti tak mau pergi.
Ia datang tanpa diundang, tinggal tanpa permisi.

Hari itu aku bekerja seperti biasa.
Setelan rapi, wangi, dan—kalau boleh jujur—cukup ganteng dan tampan. Setelah absen, pandanganku kembali tertarik pada satu hal kecil yang sejak lama sebenarnya sudah ada, tapi baru kini terasa berbeda.

Kartu nama.

Kartu kerjaku hampir selalu berdampingan dengan kartu milik Fitri. Kadang bertumpuk, kadang atas-bawah, kadang sejajar rapi. Bahkan beberapa kali kartuku hilang, dan saat kucari… ternyata berada tepat di bawah kartu milik Fitri.

Terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Aku mulai berpikir, ini seperti kode alam.
Seperti isyarat kecil yang diam-diam sejalan dengan apa yang kurasakan di dalam dada.

Sejak itu, aku mulai sering mencuri pandang ke arahnya.
Fitri sibuk di depan komputer, fokus dengan pekerjaannya. Tapi anehnya, di saat yang sama, ia juga menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Ia tersenyum. Aku membalas senyum itu. Dan entah sejak kapan, aku sadar—bukan aku yang lebih dulu memandang.

Fitri memang sudah memandang lebih dulu.

Kesadaran itu membuat keyakinanku tumbuh.
Pelan, tapi kuat. Aku mulai percaya bahwa perasaan ini tidak sepihak. Bahwa ada sesuatu yang sama-sama kami simpan, sama-sama jaga, tanpa pernah benar-benar diucapkan.

Aku pun mulai berani mendekat.
Bercanda kecil, bermain-main ringan, berada sedikit lebih dekat dari sebelumnya. Meski sampai saat itu, aku belum sanggup mengungkapkan perasaan.

Bukan karena tak ingin.
Tapi karena aku tahu, tidak semua rasa harus terburu-buru diberi nama.

Dan aku memilih menunggu—meski hatiku sudah mulai melangkah lebih dulu.

Bab 6: Senyum yang Tak Lagi Utuh

Hari-hariku akhirnya selalu dipenuhi rasa berbunga-bunga.
Ada wajah cantik yang kini sering kupandang, dan yang membuat hatiku tenang—wajah itu memandang balik dengan rasa yang sama. Tak ada risih, tak ada jarak yang dipaksa. Semua mengalir begitu saja.

Rasanya aneh.
Seperti orang yang sudah pacaran, padahal belum pacaran. Ada kedekatan tanpa status, ada perhatian tanpa janji. Dan justru di situlah rasanya terasa paling manis—dan paling berbahaya.

Namun ternyata, ketika seseorang jatuh cinta, sepandai apa pun ia menyembunyikannya, tetap saja terlihat oleh mata orang lain.

Suatu hari, SPV-ku mendekat dan berbicara pelan, seolah tak ingin kalimatnya terdengar oleh siapa pun selain aku.

“Jazle… Fitri itu sudah punya pacar. Mungkin sudah tunangan.”

Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang hari tanpa hujan.
Tak ada suara menggelegar, tapi jantungku seperti berhenti berdetak sesaat. Mati rasa. Kosong. Aku berdiri di tempat, tapi pikiranku seperti ditinggalkan.

Aku berpura-pura tenang.
Mengangguk seolah itu hanya informasi biasa. Padahal di dalam dada, sesuatu mulai berontak. Cemburu—perasaan yang bahkan belum punya hak untuk muncul—tiba-tiba tumbuh dengan liar.

Aku menoleh sekilas ke arahnya.
Fitri sedang sibuk bekerja di depan komputer. Lalu ia mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arahku—senyum yang selama ini selalu menjadi tempat pulang kecil di tengah lelah.

Aku membalas senyum itu.
Namun kali ini berbeda.

Senyumku terasa hampa. Lebih seperti kewajiban daripada rasa. Lebih seperti topeng daripada kejujuran. Aku sadar senyum itu tidak seikhlas biasanya, meski Fitri tak pernah mendengar percakapan singkat antara aku dan SPV tadi.

Tapi mungkin…
perempuan bisa merasakan hal-hal yang tak pernah diucapkan.

Dan sejak hari itu, aku mulai belajar satu hal pahit:
tidak semua senyum yang dibalas, datang dari hati yang utuh.

Bab 7: Pandangan yang Tak Bisa Dimiliki

Meskipun aku tahu statusnya—lebih dari sekadar teman, lebih dekat pada kata pacaran—hatiku masih bisa berdamai. Aku masih ingin memandang wajah cantik itu. Wajah yang sudah terlanjur membuatku jatuh cinta, meski aku tahu, tempatku mungkin tidak pernah benar-benar ada di sana.

Aku memaksakan diri untuk tetap biasa. Menahan kecewa agar tak terlalu dalam, lalu memaniskannya di depan dia seolah semuanya baik-baik saja. Aku belajar tersenyum tanpa harap, berdiri tanpa menuntut.

Hari itu, sebuah pemandangan kecil menghantamku tanpa aba-aba.

Saat aku hendak berangkat ke lapangan, aku melihat Fitri lebih dulu keluar dari kantor. Di samping gedung, memang ada sebuah warung kopi kecil. Di sanalah aku melihatnya—Fitri sedang duduk, ngopi bersama pacarnya.

Posisinya terasa aneh. Seolah ia memilih tempat yang pas, tempat di mana orang-orang yang keluar-masuk kantor bisa terlihat jelas. Tempat di mana aku pasti lewat. Dan benar saja, saat aku melangkah keluar, pandangannya langsung tertuju padaku.

Entah kenapa, aku juga penasaran. Ingin tahu seperti apa wajah lelaki yang memiliki tempat di sisinya. Maka aku pun ikut ngopi sebentar, duduk tak jauh dari mereka. Tidak menyapa. Tidak pula berusaha terlihat berani. Hanya ingin melihat, lalu mengerti.

Namun yang membuat dadaku sesak bukan kehadiran lelaki itu, melainkan Fitri.

Ia tetap tersenyum manis ke arahku. Tatapannya tak terputus, seolah aku sendirian di tempat itu. Ia terus memandangku, bahkan ketika pacarnya duduk tepat di sampingnya.

Aku mulai merasa risih. Bukan karena cemburu semata, tapi karena rasa yang tak seharusnya muncul di ruang yang salah. Aku meneguk kopi dengan cepat, lalu berdiri. Ingin segera pergi, ingin menyelamatkan perasaanku sendiri.

Namun saat aku melangkah menjauh, aku tahu—mata Fitri masih mengikutiku. Tatapan itu terus menempel, mengiringi kepergianku, sampai aku benar-benar menjauh dengan motor.

Dan di sepanjang jalan, aku bertanya dalam hati dengan suara yang nyaris tak terdengar:

Jika aku bukan milikmu, mengapa matamu terus mencariku?

Bab 8 — Di Antara Menjaga dan Terbawa

Sebulan berlalu. Perasaan itu masih ada, tetap hangat, tetap terjaga. Niat untuk memiliki sebenarnya sudah berulang kali mengetuk, tetapi selalu kutahan. Dia tidak sendiri. Dia telah memiliki hati lain.

Meski aku tahu, di balik senyumnya, ada ruang kosong yang seolah ingin diisi. Meski aku tahu, tatapannya sering singgah terlalu lama padaku. Namun aku bukan lelaki yang merebut, apalagi merusak hubungan orang.

Biarlah rasa ini kupelihara dalam diam. Aku masih bahagia, cukup dengan melihatnya baik-baik saja. Aku tak pernah memintanya memilih, tak pernah memintanya mengakhiri kisahnya dengan lelaki itu— meski jauh di lubuk hati, harapan kosong itu tetap hidup.

Tiga bulan berlalu.

Hari itu terasa berbeda. Aku melihat Fitri tidak seperti biasanya. Senyumnya berkurang, tatapannya jarang mengarah padaku. Ada resah yang tak ia ucapkan, ada kesal yang ia sembunyikan rapi.

Teleponnya berdering. Ia mengangkatnya singkat, lalu menutup dengan wajah dingin. Tanpa menoleh, ia turun dan berlalu.

Aku mencoba mengabaikan perasaan aneh itu, kembali sibuk dengan pekerjaanku—menyiapkan map sebelum turun ke lapangan. Namun ketika aku sampai di parkiran, sesuatu yang tak pernah kubayangkan terjadi.

Fitri berlari ke arahku.

Tanpa banyak kata, tanpa penjelasan, ia langsung naik ke motorku. Dengan suara tergesa, ia berkata, “Jazle, aku ikut.”

Aku terdiam. Bingung. Bimbang. Mataku refleks menoleh—di sana, lelaki itu berdiri. Wajahnya masam, tatapannya tajam, penuh tanya dan amarah yang tertahan.

Aku ragu. Namun Fitri mencengkeram lenganku, mendesak, “Cepat.”

Dan saat itu, aku kalah oleh keadaan. Mesin kuhidupkan. Gas kutarik. Kami melaju meninggalkan parkiran—meninggalkan lelaki itu yang berdiri mematung, menatap kepergian kami berdua.

Angin siang menerpa wajahku. Dadaku berdebar tak karuan. Aku tahu, sejak detik itu, garis yang selama ini kujaga… telah kulewati.

Bab 9 — Di Spion dan Pagi yang Berbeda

Hatiku berbunga semakin menjadi. Dunia terasa lebih indah dari biasanya. Ada seorang wanita cantik duduk di belakangku, begitu dekat—seakan merasakan hal yang sama denganku.

Sesekali aku melirik spion. Tatapanku bertemu matanya. Fitri tersenyum, seolah tahu aku sedang memandangnya.

Kekalutan yang ia alami pagi tadi perlahan memudar. Wajahnya kini tenang, senyumnya kembali ada. Di balik angin pagi yang menyapa, kecantikannya terlihat semakin elegan.

Aku bertanya pelan, “Fitri, mau diantar ke mana?”

Ia tersenyum kecil, lalu menjawab ringan, “Terserah kamu.”

Jawaban sederhana itu justru membuatku bingung. Aku tak tahu harus membawa ke mana seseorang yang terasa seperti kekasih, namun belum memiliki ikatan apa-apa.

Bahagia bercampur ragu. Ada senang, ada galau. Ada ingin melangkah, tapi juga takut melampaui batas.

Akhirnya aku memutuskan berhenti untuk sarapan pagi. Itu memang kebiasaanku setiap selesai dari kantor sebelum turun ke lapangan— biasanya bersama teman-teman lapangan.

Namun hari ini berbeda. Aku membawa Fitri ke tempat yang bukan tongkrongan biasa kami.

Setelah memesan, aku mulai bercanda. Tertawa ringan. Berusaha menghiburnya tanpa sedikit pun menginterogasi.

Aku tak bertanya apa yang terjadi. Tak menyinggung pertengkarannya. Tak menuntut penjelasan mengapa ia meninggalkan lelaki itu dan memilih menemaniku sarapan pagi.

Saat itu, aku hanya ingin satu hal— membuat beban di pikirannya menghilang, meski untuk sesaat.

Bab 10 — Hari yang Terasa Milik Berdua

Hari ini benar-benar terasa bahagia. Seolah dunia hanya milik kami berdua.

Meski belum sempurna—karena kebahagiaan ini belum bernama pasangan— kami hanya teman dekat, namun sama-sama tahu: hati ini ingin memiliki.

Aku melihat kebahagiaan itu dari tawanya yang lepas saat aku menggodanya. Fitri pun berani membalas, menggodaku tanpa ragu, tanpa beban. Untuk sesaat, ia seperti melupakan masalah yang masih berdiri di depan hidupnya.

Waktu bergerak cepat. Siang mulai beranjak. Aku harus pergi ke lapangan.

Sebelum berpisah, aku mengantarnya ke kantor. Saat hendak turun dari motor, ia menoleh padaku dan berkata pelan, “Nomor HP kamu berapa?”

Aku menyebutkannya. Ia menyimpannya, lalu tersenyum. “Nanti malam temani aku makan malam, ya.”

Kalimat itu sederhana, tapi dadaku bergetar seperti baru saja menerima janji besar.

Di lapangan, pikiranku tak sepenuhnya fokus. Tanganku bekerja, tapi hatiku sibuk membayangkan malam ini— kencan pertama, setelah pagi tadi yang terasa seperti kencan mendadak.

Malam pun tiba.

Setelah absen, aku melihatnya masih di kantor. Ia menatapku dengan senyum yang sama seperti pagi tadi. “Jadi ya, makan malam nanti,” katanya ringan, “Fitri yang traktir.”

Aku tersenyum lebar. “Siap. Aku balik mandi dulu ya.”

Aku melangkah pergi dengan senyum paling lebar yang pernah kupunya. Langkahku ringan. Hatiku penuh harap.

Aku tak tahu, malam ini akan membawa kami ke mana. Yang kutahu, hari ini… aku bahagia.

Bab 11 — Malam yang Meminta Keberanian

Selesai mandi, ponselku bergetar. Pesan dari Fitri.

“Jazle, jemput di kantor ya.”

Tanpa berpikir panjang, aku membalas, “Oke.”

Aku bersiap rapi. Wangi. Entah kenapa malam ini terasa berbeda—lebih serius, lebih sunyi dari dalam.

Sesampainya di kantor, aku menunggu di parkiran lalu mengirim pesan, “Fit, aku di bawah.”

Tak lama kemudian ia muncul. Dengan senyuman yang indah, namun matanya menyimpan sesuatu yang tak biasa.

“Makan di mana kita?” tanyaku.

“Ke Lamongan,” jawabnya singkat, lalu ia naik ke motor dan duduk di belakangku.

Di warung Lamongan, setelah memesan, kami mulai bercerita pelan. Obrolan ringan, tawa kecil—sampai tiba-tiba ponselnya berdering.

Sekali. Diabaikan.

Berdering lagi. Diabaikan lagi.

Aku menatapnya. “Angkatlah, Fit. Terus terang saja,” kataku.

Ia menggeleng pelan. “Biar saja,” ujarnya, sambil tersenyum kecut.

Ada rasa tak enak yang menjalar di dadaku.

Aku menarik napas, lalu berkata jujur, “Fit, maafkan aku ya… jangan sampai hubungan kita merusak hubungan kamu yang sudah begitu lama.”

Ia terdiam sejenak. Lalu dengan suara pelan, ia mulai bercerita.

“Sebenarnya… malam ini orang tua kami mau menentukan tanggal pernikahan,” katanya.

Dadaku seperti dihantam sesuatu yang berat.

“Aku belum siap menikah,” lanjutnya. “Itulah sebabnya kami bertengkar. Kami sudah tunangan. Niat awal memang bulan ini.”

Ia menunduk sejenak, lalu menatapku kembali.

“Entah kenapa, sejak bertemu kamu… aku mulai ragu.”

Tatapannya lurus ke mataku, lembut, seolah ingin aku mengerti—atau bahkan menyetujui.

“Bukan aku tak mau menikah,” katanya lagi, “aku hanya ingin menunda sampai benar-benar siap. Tapi dia terus memaksa, tanpa peduli keinginanku.”

Itulah sebab pertengkaran pagi tadi. Itulah alasan ia meninggalkan acara keluarga. Itulah mengapa ia belum pulang dari kantor.

Ia menatap wajahku lebih lama dari sebelumnya. Tatapan yang tak meminta jawaban, namun jelas meminta pengertian.

Aku tahu, malam ini bukan sekadar makan malam. Ini adalah malam ketika seseorang menitipkan beban hidupnya padaku— dan tanpa kusadari, aku sedang berdiri di persimpangan yang paling berbahaya dalam hidupku.

Bab 12 — Diam yang Menyakitkan

Aku menatap wajah cantik di depanku. Dalam hati, ada keinginan kuat—ingin rasanya aku berkata, ikut aku, kita menikah. Namun kesadaran masih bisa kupeluk erat, meski tanganku gemetar.

Dengan suara pelan, aku berkata, “Hubungan kalian sudah terlalu jauh. Orang tua sudah setuju.”

Kalimat itu keluar dari mulutku, padahal hatiku menolaknya.

“Janganlah kamu kecewakan mereka,” lanjutku, “pulanglah… biar kuantar.”

Fitri menarik napas panjang. Ia memandang wajahku lama, tatapan yang penuh kecewa—seakan bukan itu jawaban yang ia harapkan dariku.

Aku tahu apa yang ia rasakan. Dan justru karena tahu, aku memalingkan wajahku. Bukan karena benci, tapi karena tak tega.

Hatiku kacau. Sakit. Aku ingin memilikinya, namun aku juga tak ingin menghancurkan perasaan orang tuanya… perasaan lelaki yang telah lebih dulu ada.

Malam itu, makanan di depanku terasa hambar. Aku melihat Fitri menitikkan air mata. Mungkin karena aku tak berani bertanggung jawab. Mungkin karena aku memilih jalan yang terlalu benar.

“Kenapa, Jazle?” katanya lirih. “Kamu lelaki… kenapa kamu tidak memperjuangkan perasaan cintamu?”

Aku terdiam. Menatap mata yang berkaca-kaca di hadapanku.

Dan untuk pertama kalinya, aku ragu— apakah menjadi lelaki baik selalu berarti memilih diam.

Bab 13 — Malam yang Dipilih untuk Ditanggung Sendiri

Aku hanya mampu menarik napas panjang. Kepalaku terasa mentok. Sebenarnya aku tak sulit jika harus menjadi lelaki yang jantan—lelaki yang berani mengambil, berani melawan, berani merebut.

Namun aku lebih memilih menjaga perasaan. Tak ingin ada yang tersakiti. Biarlah rasa ini kupelihara sendiri.

Kami menatap makanan di depan kami. Rasanya hampa. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi canda.

Kami diam membisu. Bukan karena tak ada yang ingin dibicarakan, melainkan karena tak ada jalan yang bisa kupertanggungjawabkan.

Sesekali aku meliriknya. Fitri makan pelan, tanpa selera. Nafsu makannya bahkan lebih hilang dari milikku.

Makanannya tak sampai setengah. “Aku nggak ada selera makan,” katanya lirih.

Aku paham perasaan yang sedang ia rasakan. Dan justru karena paham, dadaku semakin sesak.

Kami pulang dalam seribu diam. Hanya suara mesin, denyut jantung, dan pikiran yang terus berlari ke mana-mana.

Sampai akhirnya aku menurunkannya di depan kantor. Tak ada pelukan. Tak ada janji.

Hanya satu kalimat sederhana yang keluar dari mulutku, “Selamat malam.”

Lalu aku pergi.

Malam itu aku tertidur dalam keadaan merana. Pikiranku penuh pertanyaan—tentang apa yang terjadi, dan langkah apa yang seharusnya kuambil.

Keesokan harinya, aku tak melihat Fitri masuk kantor.

Dari HRD aku mendengar kabar, ia sakit.

Aku hanya bisa diam. Ada rasa kehilangan yang pelan-pelan menyusup—kehilangan seorang wanita yang begitu spesial di hatiku.

Namun apa daya, aku belum siap untuk bertanggung jawab atas keadaan yang tercipta.

Dan kadang, kehilangan bukan terjadi karena pergi, melainkan karena memilih untuk tidak menggenggam.

Bab 14

Hari itu aku ke lapangan hanya untuk memenuhi tuntutan sebagai seorang karyawan. Tubuhku bergerak, tapi pikiranku melayang ke Fitri. Entah bagaimana kabarnya sekarang.

Aku menunggu pesan darinya, tapi tak kunjung datang. Beberapa kali aku mengetik pesan, lalu ragu untuk mengirim. Aku hapus lagi. Begitu terus berulang, sampai akhirnya aku menyimpan ponsel dan melangkah dengan pikiran kosong.

Seminggu berlalu. Fitri masih belum masuk kerja. Keadaan kantor berjalan seperti biasa, tapi hatiku tidak.

Aku gelisah, entah apa yang sebenarnya aku gelisahkan. Rasa itu hanya menumpuk tanpa bentuk.

Sore itu, sepulang dari kantor, aku melihat sebuah motor terparkir di depan rumah. Motor itu mirip motor Fitri.

Langkahku terhenti. Dadaku berdebar kencang. Aku ragu untuk masuk.

Dengan suara pelan aku mengucap, “Assalamu’alaikum,” sambil melangkah ke dalam rumah.

Di ruang tamu, aku melihat seorang wanita cantik menatapku dengan senyuman indah. Fitri.

Dia sedang duduk dan berbincang dengan mamaku. Aku menatap wajah mama, dan dari sorot matanya aku tahu— sepertinya Fitri sudah menceritakan banyak hal tentang hidupnya.

Saat itu aku hanya bisa diam. Di dalam hati, muncul satu pertanyaan besar:

Apa yang sebenarnya ingin mama sampaikan padaku?

Bab 15

Mama memandangku lama, seakan menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan. Senyumnya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya—sebuah keseriusan yang jarang kulihat.

“Jazle,” kata mama pelan, “Fitri sudah cerita semuanya sama mama.”

Dadaku kembali berdebar. Aku duduk perlahan, tak berani menatap Fitri terlalu lama. Dia masih tersenyum, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang.

Mama melanjutkan, “Dia datang ke sini bukan untuk main-main. Dia datang karena hatinya sedang bingung, dan dia butuh tempat yang aman untuk bicara.”

Aku menelan ludah. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi tetap saja aku berharap salah.

Fitri akhirnya bicara. Suaranya lembut, nyaris bergetar.

“Aku cuma ingin jujur, Jazle. Aku tidak ingin menyimpan semua ini sendiri. Aku tidak datang untuk memaksa apa pun.”

Aku mengangkat wajah, menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku melihat kejujuran yang telanjang—tanpa rayuan, tanpa permainan perasaan.

“Aku tahu aku salah,” lanjutnya, “karena datang ke hidupmu saat aku masih punya ikatan. Tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Mama menatapku, kali ini lebih dalam. “Sebagai laki-laki,” kata mama perlahan, “kamu memang tidak boleh gegabah. Tapi kamu juga tidak boleh lari dari perasaanmu sendiri.”

Kata-kata itu menghantam kepalaku.

Selama ini aku selalu bangga pada diriku— merasa dewasa karena mampu menahan diri, merasa bijak karena tidak merebut yang bukan hakku.

Namun saat itu aku sadar, bisa jadi aku bukan sedang menjaga perasaan orang lain, melainkan sedang bersembunyi dari keberanian.

Aku menarik napas panjang.

“Fit,” kataku akhirnya, “aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya hidup siapa pun. Tapi aku juga tidak ingin membohongi kenyataan bahwa aku peduli padamu.”

Fitri menatapku, matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak minta kamu memilih sekarang,” katanya pelan. “Aku cuma ingin kamu tahu… aku tidak pernah menganggapmu sekadar pelarian.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Malam itu tidak ada keputusan. Tidak ada janji. Tidak ada kepastian.

Namun satu hal jelas: perasaan yang selama ini kutahan, kini sudah duduk di hadapanku— disaksikan oleh mama, dan tak bisa lagi aku pura-pura tak ada.

Bab 16

Akhirnya aku mengalah pada keadaan.

Aku memandang wajah Fitri yang penuh harap—harapan akan sebuah jawaban, jawaban yang mampu menenangkan hatinya. Aku tahu, bagi seorang wanita yang telah yakin pada seorang lelaki, itulah harapan terakhir yang ingin ia dengar.

Sebenarnya aku telah memahami semua itu jauh sebelumnya. Namun aku punya harga diri. Aku tak ingin hadir di tengah hubungan orang lain dan menjadi sebab rusaknya perasaan seseorang yang lebih dahulu ada dalam hidupnya.

Dengan dada yang sesak dan emosi yang tak lagi mampu kutahan, aku berbicara dengan nada tinggi, sedikit membentak—bukan karena marah padanya, melainkan karena aku sedang berperang dengan diriku sendiri.

“Cukup, Fitri. Hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku tak bisa memaksa egoku untuk menyakiti perasaan orang lain yang lebih dulu bersamamu.”

Aku menarik napas, menahan gemetar di suaraku sendiri.

“Biarlah kisah kita berakhir seperti ini. Aku mohon, pulanglah. Lanjutkan hidupmu bersama dia. Cintailah orang tuamu. Ikutilah apa yang mereka inginkan.”

Dadaku terasa perih.

“Biarlah cinta kita berakhir di sini. Aku bahagia… jika kamu bahagia.”

Kata-kata itu terucap dengan terpaksa, melukai hatiku sendiri, menghancurkan perasaanku perlahan.

Mamaku memandangku dengan raut wajah yang masam. Aku tahu mama tak setuju dengan keputusanku. Namun ia memilih diam, lalu mendekap Fitri yang menangis sejadi-jadinya.

Dalam isakan yang tersedu-sedu, Fitri berbicara.

“Tapi aku sudah tidak bisa mencintai dia. Aku sudah benar-benar mencintai kamu, Jazle. Aku hanya ingin hidup bersamamu…”

Tangisnya semakin pecah.

“Aku tak bisa…”

Aku terdiam.

“Percuma, Fit. Restu orang tua itu penting dalam hubungan,” kataku lirih.

“Lalu perasaanku bagaimana?” sahutnya dengan suara gemetar. “Aku tak bisa melanjutkan hidup bersama dia. Hatiku sudah hilang untuknya. Cintaku hanya ada untukmu. Tolong pahami perasaanku…”

Aku menatapnya lama, lalu bertanya pelan, “Lalu kamu mau aku bagaimana, Fit?”

Dengan suara yang masih bergetar, ia menjawab, “Kita bersama-sama bertemu orang tuaku. Kita katakan semuanya dengan jujur tentang hubungan kita.”

Aku spontan menjawab, “Kamu gila, Fit. Kamu mau kita mati bersama oleh orang tuamu?”

Aku menggeleng pelan.

“Jangan seperti itu,” kataku, mencoba menasihati, meski aku sendiri tahu—ini adalah nasihat yang paling sulit untuk kujelaskan, dan paling berat untuk kujalani.

Bab 17

Fitri bergumam pelan, tapi tegas, “Kita nikah malam ini juga,” katanya, tanpa ragu, tanpa rasa takut.

Justru akulah yang ketakutan.

Aku takut pada tuntutan keluarganya. Takut pada omongan orang. Takut pada aib yang mungkin harus mereka tanggung—sudah bertunangan dengan orang lain, lalu menikah dengan lelaki lain tanpa benar-benar menyelesaikan ikatan pertunangan itu.

Aku menarik napas panjang.

Mamaku memandangku, seakan berharap aku menerima ucapan Fitri. Anehnya, mama lebih membela Fitri, padahal sebenarnya mama belum benar-benar mengenalnya. Bahkan aku sendiri belum pernah menceritakan siapa Fitri sebenarnya.

Mungkin naluri seorang wanita memang berbeda dengan naluri seorang lelaki.

Aku kebingungan. Dalam keadaan seperti ini, aku benar-benar tak tahu langkah apa yang harus kuambil.

Akhirnya aku mencoba membuka jalan—bukan jalan yang mudah, tapi setidaknya jalan yang tidak melukai semua pihak sekaligus.

“Fitri,” kataku lembut, “sebaiknya kamu pulang dulu. Ceritakan semuanya pada mama kamu—apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana perasaanmu.”

“Kita lihat bagaimana respons mama kamu,” lanjutku. “Setelah itu, baru aku datang melamar dengan cara yang benar.”

Aku menatapnya dalam-dalam.

“Intinya, selesaikan dulu urusan dengan bapak dan mama kamu. Biarkan mereka memahami perasaanmu. Jika nanti orang tua kamu bersikap kasar atau menolak tanpa mau mendengar, barulah kita pikirkan jalan selanjutnya.”

Aku menarik napas, lalu berkata jujur, “Aku juga tidak ingin berpisah darimu.”

Aku tersenyum kecil.

Fitri pun tersenyum, meski air mata masih mengalir di pipinya. Mamaku ikut tersenyum—senyum yang seolah menyimpan kepuasan, meski tanpa kata.

Meskipun ini bukan akhir yang sepenuhnya membahagiakan, setidaknya untuk sementara, kami tidak kalah.

Namun jauh di dalam hati, aku sadar—tantangan ke depan jauh lebih berat. Karena jalan yang kami pilih bisa saja melukai hati orang tua Fitri, orang tua yang sudah terlanjur menerima orang lain sebagai bagian dari masa depan anaknya.

Bab 18

Malam itu aku terjaga. Bukan karena suara, bukan pula karena mimpi—melainkan karena pikiranku sendiri yang tak mau diam.

Semua kejadian siang tadi berulang di kepala. Tangis Fitri. Nada suaraku yang keras. Tatapan mama yang tak banyak bicara, tapi penuh arti.

Perlahan, keyakinanku mulai digerus ragu. Aku bertanya pada diriku sendiri—sanggupkah aku berdiri di samping Fitri, menantang keadaan, dan menghadapi keluarganya demi cinta yang kami yakini?

Gelisah ini terasa lebih menyakitkan daripada saat aku pertama kali jatuh cinta padanya. Jika cinta membuat dada hangat, maka keraguan membuat kepala sesak.

Pikiranku berputar-putar tanpa arah. Aku membayangkan hari ketika aku harus duduk berhadapan dengan kedua orang tua Fitri. Nada suara yang meninggi. Kata-kata yang bisa melukai. Pertikaian yang mungkin tak terelakkan.

Semakin kupikirkan, semakin aku tenggelam. Hingga tanpa sadar, malam berlalu dan azan subuh memecah sunyi. Aku belum juga memejamkan mata.

Pagi itu, langkahku terasa berat saat keluar kamar. Mama sedang membuat kopi susu di dapur. Ia menoleh, lalu tersenyum—senyum seorang ibu yang tahu, anaknya sedang memikul beban besar.

“Kenapa semalam tak bisa tidur?” tanyanya lembut.

Aku tak menjawab. Hanya senyum tipis yang kupaksakan.

Mama meletakkan cangkir, lalu menatapku. “Masalah jangan cuma dipikirkan,” katanya pelan. “Hadapi. Dengan jantan. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Yang penting kamu berani bertanggung jawab atas keputusanmu sendiri.”

Aku menunduk. Kata-kata itu menampar, tapi juga menguatkan.

Mama lalu melanjutkan, “Mama dan ayah setuju kalau Fitri jadi menantu. Jangan khawatir. Dia cantik, dan hatinya baik. Mama bisa merasakannya.”

Dadaku terasa lapang. Seperti ada beban yang perlahan diangkat.

Wejangan mama pagi itu menghidupkan kembali semangatku. Aku merasa seperti jatuh cinta lagi pada Fitri—bukan dengan rasa berbunga-bunga, melainkan dengan keyakinan yang lebih dewasa.

Saat itu aku tahu, apa pun yang menantiku di depan, aku siap menghadapinya. Siap bertemu orang tua Fitri. Siap memperjuangkan cinta kami, apa pun risikonya.

Bab 19

Aku melangkah ke kantor dengan hati yang mantap. Keyakinanku sudah bulat—seratus persen. Apa pun yang terjadi, aku ingin bersama Fitri. Keputusan itu sudah kutanamkan dalam-dalam, tak lagi goyah oleh keraguan.

Begitu tiba di kantor, mataku langsung menangkap sosoknya. Fitri terlihat lebih ceria dari biasanya. Senyum indah tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Setiap kali pandangan kami bertemu, ada bahasa yang tak terucap—seolah kami saling berkata, kita berjuang bersama, apa pun risikonya.

Belum sempat aku menikmati perasaan itu lebih lama, BM memanggil, “Jazle, ke ruangan saya dulu.”

Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Sebelum masuk, sempat kulirik Fitri. Ia menatapku dengan penuh keyakinan. Kami tersenyum kecil—senyum dua orang yang merasa cinta mereka kini sejalan.

Di ruangan BM, aku mendapat kabar yang tak kuduga. Aku diminta mengikuti tes kenaikan pangkat ke Pontianak, hari Senin ini.

Aku terdiam sesaat, lalu menjawab, “Oke, siap Pak. Terima kasih.”

Dalam perjalanan ke Pontianak, Fitri tak pernah lepas dari pikiranku. Kami sering saling menelepon, bercerita panjang lebar tentang harapan, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi sederhana yang ingin kami bangun bersama. Rasanya seperti kebahagiaan yang hampir sempurna, meski kami tahu masih ada batu sandungan yang belum sepenuhnya terlewati.

Tes itu akhirnya selesai. Aku dinyatakan lulus dan resmi menjadi SPV. Sejak saat itu, kesibukanku di kantor bertambah. Namun di sela-sela waktu, aku dan Fitri semakin sering bersama. Keluar bersama, makan bersama, menghabiskan hari-hari dengan tawa yang tulus. Kebahagiaan itu terasa begitu dekat, seakan tak ingin pergi.

Meski begitu, jauh di dalam hati, aku sadar satu hal. Masih ada penghalang yang belum benar-benar hilang.

Pertanyaan itu terus menghantui: apakah cinta ini akan benar-benar bersatu, atau justru harus berakhir jika aku gagal menaklukkan hati kedua orang tuanya?

Bab 20

Hari itu aku pikir segalanya mulai mengarah ke jalan yang benar. Aku pulang kantor dengan hati yang ringan, membawa kabar kelulusan dan kenaikan tanggung jawab. Dalam benakku, semua ini akan menjadi bukti bahwa aku bukan lelaki yang main-main—bahwa aku layak memperjuangkan Fitri.

Namun aku keliru.

Sore itu, ponselku bergetar berkali-kali. Bukan dari Fitri, melainkan dari nomor yang tak kusimpan.

Aku angkat.

“Ini Jazle?” Suara di seberang terdengar berat, tegang, dan asing.

“Iya, saya sendiri.”

“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ke anak saya?”

Dadaku langsung menegang. Itu suara ayah Fitri.

Aku berdiri terpaku, seolah dunia mendadak berhenti berputar.

Belum sempat aku menjawab, suara itu kembali meledak.

“Anak saya sakit! Rumah ini kacau! Pertunangan yang sudah kami jaga bertahun-tahun hancur karena kamu!”

Tanganku gemetar memegang ponsel. Kata-kata itu seperti palu, memukul kepalaku tanpa ampun.

Aku mencoba bicara, menjelaskan, menahan nada agar tetap sopan. Namun tak satu pun penjelasanku didengar.

Dengan tegas dia berkata, “Jauhi Fitri. Jangan ganggu hidupnya, apa pun alasannya. Saya ingatkan sekali lagi—jangan ada lagi kamu di hidupnya. Tinggalkan dia. Paham?”

Aku terdiam. Belum sempat aku menjawab, sambungan telepon itu terputus.

Dalam hatiku aku bergumam, dia tak ingin mengenal diriku sama sekali. Dia hanya tahu aku perusak hidup anaknya. Tak mau tahu siapa aku, tak mau tahu niatku, tak mau tahu kebenarannya.

Sadis betul pikiranmu, Pak.

Aku bingung—harus bagaimana melangkah. Orang tuanya sudah memberi titik, tanpa koma.

Apakah aku harus memaksa dan melawan semuanya? Atau aku harus mundur, mencoba mengikhlaskan cinta yang terasa sudah begitu sempurna?

Bab 21

Dengan berat, kakiku melangkah lunglai tanpa energi. Cinta memang belum sepenuhnya padam, tetapi hatiku sudah dipenuhi kelelahan.

Aku berniat menemui mereka langsung—apa pun alasannya. Entah langkah ini akan menjadi awal keberanian, atau akhir yang harus kuterima dengan martabat.

Malam itu, dengan sisa keyakinan yang kupaksakan, aku melaju menuju rumah Fitri. Sesampainya di depan rumah, keraguan menyeruak. Nyali sedikit menyusut. Namun aku memaksa diri—aku sudah sejauh ini.

“Assalamu’alaikum.”

Belum sempat napasku kembali tenang, suara berat menjawab dari dalam.

“Wa’alaikum salam.”

Pintu terbuka.

Kami saling berpandangan. Dalam hatiku, aku tahu—inilah ayah Fitri. Tubuhnya kekar, sorot matanya tegas, wibawanya kuat. Naluri seorang ayah seolah langsung tahu siapa lelaki yang berdiri di hadapannya.

Aku mencoba tersenyum, menundukkan kepala dengan sopan.

“Saya Jazle, Pak.”

Tak ada balasan senyum. Justru sorot matanya makin mengeras, seperti menahan amarah.

“Iya. Ada apa kamu ke sini? Pintu ini tidak terbuka untukmu.”

“Pak, mohon maaf. Bolehkah kita bicara? Izinkan saya masuk.”

“Tidak perlu,” katanya tegas. “Apa kamu lupa telepon sore tadi?”

Kata-kata itu cukup. Tak ada ruang untuk penjelasan.

Aku masih mencoba lembut.

“Pak, keadaan ini bukan keinginan kami. Tapi semua sudah terjadi. Jika pertunangan Fitri berakhir, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Dan saya datang bukan untuk lari—saya ingin bertanggung jawab. Izinkan saya menikahi Fitri.”

Tatapannya berubah. Lebih tajam dari pisau, seperti menusuk tepat ke jantung.

“Siapa kamu? Apa hakmu ingin menikahi putriku?”

“Jaminan apa yang bisa kamu beri? Kamu kira pekerjaanmu cukup menjamin hidup putriku?”

“Jangan bermimpi.”

Nada suaranya dingin, namun mematikan.

“Kamu pergi sekarang. Tinggalkan Fitri. Lupakan semuanya.”

“Keputusanku sudah bulat. Fitri akan menikah dengan tunangannya.”

Ia melangkah sedikit mendekat.

“Sekarang kamu pergi dengan baik-baik… atau kamu mau keluar dengan cara yang kasar?”

Bab 22 – Dinding yang Tak Bisa Ditembus

Aku sadar, tak ada lagi ruang untuk berdamai. Keadaan terlalu berat. Orang tuanya keras—dari cara bicara, tatapan, hingga sikap—semuanya menunjukkan bahwa ini bukan persoalan yang mudah untuk mengubah prinsip seseorang.

Aku mencoba mundur sedikit, mencari celah untuk berargumen. Namun dia tak memberiku kesempatan.

“Pergi dari rumah saya. Lupakan Fitri,” kalimat itu terus diulanginya.

“Tapi, Pak—”
“Tidak ada tapi!” potongnya keras.

Ia melangkah mendekat. Naluri kecil di dalam diriku tahu, posisi ini tidak baik-baik saja.

Aku mulai pasrah. Berniat pergi saja, karena pintu rumah ini jelas tak mungkin terbuka untukku.

Namun suara bapaknya justru semakin meninggi, kembali mengusirku. Saat itulah Fitri dan mamanya keluar dari dalam rumah.

“Bapak, jangan marahkan Jazle,” suara Fitri bergetar.
“Fitri yang mencintainya.”

Ia mendekat ke arahku, seakan berjaga, takut jika bapaknya berbuat sesuatu yang tak terkendali.

Mamannya hanya berdiri terpaku. Di wajahnya terlihat kebingungan—antara marah kepada Fitri dan rasa sayang pada anaknya sendiri. Matanya lelah, seolah menanggung beban yang tak sanggup diucapkan.

“Pak,” lanjut Fitri sambil menahan tangis,
“kami saling mencintai. Kami tak bisa berpisah. Tolong izinkan kami menikah.”

“Fitri janji tak akan mengganggu kehidupan Papa. Susah senang biar Fitri jalani bersama Jazle,” katanya lirih, penuh harap.

Namun kata-kata itu justru menyulut emosi bapaknya.

“Anak kurang ajar! Anak durhaka!” bentaknya.
“Kamu kira bisa hidup bahagia tanpa restu orang tua? Kamu kira bisa masuk surga dengan mendurhakai orang tua?”

Kalimat itu keluar begitu saja, entah disadari atau tidak.

“Sekarang kamu masuk!” bentaknya pada Fitri.
“Biarkan bajingan itu pergi dari sini!”

“Kamu tetap harus menikah bulan depan!”

Ia maju dan mendorongku hingga aku terhuyung ke belakang. Fitri ikut terdorong bersamaku.

Namun tangan kami saling menggenggam erat, menahan tubuh agar tak sampai terjatuh.

Bab 23: Genggaman Terakhir

Aku bergumam dalam hati, Ya Allah, berat betul ujian ini, sambil tanganku masih menggenggam erat tangan Fitri. Begitu juga dengannya—genggamannya tak melemah sedikit pun, seolah itu satu-satunya pegangan kami di tengah kekacauan.

Namun pemandangan itu justru membuat bapaknya semakin tak terkendali.

“Ma! Tarik Fitri masuk! Kalau perlu kunci dan kurung di kamar!” bentaknya keras pada istrinya.

Mamannya terdiam, ragu. “Tapi, Pak…” suaranya gemetar.

“Apa?!” teriak bapaknya semakin keras, memotong semua keraguan.

Tak sabar menunggu, bapaknya melangkah maju. Ia menarik tangan Fitri dengan kasar. Aku tercekat. Tak tega melihat Fitri kesakitan—satu tangannya ditarik bapaknya, sementara tangan yang lain masih menggenggam tanganku erat.

Aku tahu aku harus memilih. Dengan hati yang hancur, aku melepaskan genggaman itu perlahan.

Fitri menatapku. Tatapan itu… seakan berkata jangan lepaskan aku. Dadaku terasa diremas kuat-kuat.

Tarikan bapaknya terlalu keras. Fitri terhuyung. Tangannya menyenggol pot bunga di dekat teras.
Praang!

Pot itu jatuh dan pecah, serpihannya berserakan di lantai—seperti hati kami malam itu.

Di saat itulah aku sadar. Ini tak mungkin kupaksakan. Tak ada ruang lagi untukku di rumah ini. Tak ada celah untuk berdiri sebagai lelaki yang dihormati.

Dengan langkah berat, aku berbalik. Pergi meninggalkan rumah yang sebenarnya tak ingin kutinggalkan.

Aku pergi…
dengan membawa cinta yang belum selesai,
dan keikhlasan yang dipaksa tumbuh dari luka.

Bab 24 – Sunyi yang Pulang Bersama Aku

Aku berjalan tanpa tahu harus ke mana. Langkah kakiku berat, seolah setiap jengkal jalan ikut menanggung apa yang tertinggal di belakang.

Malam terasa panjang. Lampu jalan menyala satu per satu, tapi tak satu pun sanggup menerangi dadaku yang gelap.

Tanganku masih terasa kosong. Padahal beberapa menit lalu, tangan itu menggenggam dunia—Fitri.

Aku berhenti sejenak di pinggir jalan. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Namun sesak itu tak juga pergi.

Ya Allah…
aku tak meminta hidup yang mudah. Aku hanya ingin dicintai tanpa harus merampas siapa pun.

Di kepalaku, wajah Fitri terus muncul. Tatapan terakhirnya saat aku melepaskan genggaman itu— bukan marah, bukan benci, tapi kecewa yang dipendam dengan cinta.

Dan itu lebih menyakitkan dari apa pun.

Aku bertanya pada diriku sendiri:
apakah aku telah berjuang cukup keras,
atau justru terlalu cepat menyerah?

Namun semakin kupikirkan, semakin aku sadar… kadang mengalah bukan berarti kalah. Kadang itu satu-satunya cara agar orang yang kita cintai tidak semakin terluka.

Sesampainya di rumah, aku duduk lama di depan pintu. Tak langsung masuk. Aku biarkan sunyi menyapaku lebih dulu.

Di dalam kamar, aku rebah tanpa menyalakan lampu. Langit-langit rumah menatapku kosong, sama kosongnya dengan hatiku malam itu.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti:
kehilangan bukan selalu tentang pergi selamanya,
tapi tentang jarak yang tak lagi bisa kita tempuh bersama.

Dan malam itu…
aku belajar ikhlas dengan cara yang paling menyakitkan—
mencintai tanpa bisa memiliki.

Bab 25 – Mengalah dengan Keadaan

Cinta yang kubina dengan tenang dan penuh rasa nyaman itu akhirnya harus berakhir. Bukan dengan teriakan, bukan dengan perpisahan yang gaduh, melainkan dengan rasa tertusuk yang diam-diam menghabisi hati.

Sempat terlintas keinginan untuk lari dari dunia ini. Namun ke mana pun aku ingin pergi, dunia terasa terlalu sempit untuk bersembunyi dari luka.

Pikiranku bukan hanya tentang diriku. Justru Fitri yang paling sering hadir dalam benakku.

Segala pengorbanan yang ia lakukan— rasa sakit, luka batin, bahkan darah yang mungkin tak pernah ia ceritakan— ia jalani dengan ikhlas, hanya demi bisa bertahan bersamaku.

Namun aku tak sanggup memperjuangkan apa pun untuk menyembuhkan semua pengorbanannya.

Di titik ini, aku merasa gagal sebagai lelaki. Bukan karena aku tak mencintainya, melainkan karena cintaku tak cukup kuat untuk melindunginya.

Mungkin benar, takdir memiliki jalannya sendiri. Dan tidak semua cinta ditakdirkan untuk bertahan, meski diperjuangkan dengan seluruh jiwa.

Dengan hati yang berat, aku memilih mengalah. Berhenti berharap. Berhenti mencintai—bukan karena rasa itu hilang, melainkan karena aku tak ingin ia terus terluka.

Dengan tetesan air mata yang tak lagi bisa kutahan, aku berbisik dalam hati:
selamat tinggal, Fitri.
Aku mengalah pada keadaan.

Doaku akan selalu menyertaimu— untuk hidup yang lebih tenang, untuk bahagia yang mungkin tak bisa kuberikan.

Malam itu, aku menyelesaikan catatan ini. Kutulis bukan untuk menghidupkan luka, melainkan untuk mengenang perjuanganmu.

Diari ini kututup. Lalu kusimpan di dalam lemari— seperti hatiku yang kupelihara rapat, menyimpan namamu jauh di lubuk terdalam.

Bab 26 – Fitri

Aku tidak menangis saat dia pergi. Air mataku justru tertahan, seolah hatiku sudah terlalu lelah untuk runtuh.

Aku berdiri lama di tempat itu, menatap punggungnya yang semakin menjauh, hingga bayangannya benar-benar hilang dari pandanganku.

Di dadaku ada rasa kosong. Bukan karena aku tidak mencintainya, melainkan karena aku tahu— inilah akhir yang tak pernah kuinginkan, namun harus kuterima.

Aku pulang dengan langkah yang terasa asing. Rumah ini masih sama, namun aku tidak lagi menjadi Fitri yang dulu.

Malam itu ayah berbicara panjang lebar. Tentang kewajiban, tentang nama baik, tentang masa depan yang katanya sudah disiapkan.

Aku mengangguk pelan. Bukan karena setuju, tetapi karena aku sudah kehabisan tenaga untuk melawan.

Di dalam kamar, aku berdiri di depan cermin. Wajah yang menatapku terlihat utuh, namun di baliknya ada sesuatu yang telah hancur perlahan.

Aku menyentuh dadaku sendiri. Di sanalah selama ini Jazle tinggal— dalam diam, dalam doa, dalam harap yang tak pernah sempat menjadi nyata.

Aku tidak membencinya. Aku juga tidak menyalahkannya. Jika ada yang harus kulepaskan malam ini, itu adalah mimpiku sendiri.

Aku tahu sekarang, mencintai bukan selalu tentang memiliki. Kadang cinta adalah keberanian untuk diam, meski hati berteriak ingin diperjuangkan.

Malam semakin larut. Aku meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping bantal.

Layar itu menyala. Namanya masih ada di sana. Tidak berubah. Seolah waktu belum benar-benar bergerak.

Aku membuka percakapan kami.

Tidak ada pesan baru. Yang ada hanyalah jejak-jejak lama— kata-kata sederhana yang dulu terasa biasa, kini berubah menjadi luka.

Aku membaca ulang pesan terakhirnya. Bukan janji. Bukan rayuan. Hanya kalimat pendek yang dulu membuatku yakin bahwa aku tidak sendirian.

Tanganku gemetar. Ingin membalas. Ingin berkata bahwa aku masih di sini, masih menunggu, masih mencintai.

Namun jariku berhenti.

Aku tahu, jika aku mengirim satu kata saja, aku akan kembali membuka luka yang sedang berusaha kututup dengan ikhlas.

Pelan-pelan, aku mengunci layar ponsel itu. Bukan karena aku ingin melupakannya, tetapi karena aku ingin menyelamatkan diriku sendiri.

Aku mematikan ponsel. Memeluk bantal. Membiarkan air mata jatuh tanpa suara.

Dalam gelap, aku berdoa:
Ya Allah, jika dia memang bukan untukku,
maka kuatkanlah aku untuk merelakannya tanpa membencinya.

Malam itu, aku kehilangan seseorang yang sangat kucintai, tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Jika suatu hari nanti dia mengingatku, aku ingin dia mengenangku bukan sebagai perempuan yang ia tinggalkan, melainkan sebagai seseorang yang pernah mencintainya dengan segenap jiwa— tanpa syarat, tanpa dendam.

Bab 27 – Mengalah untuk Tetap Mencintai

Kini jalan hidup telah mengalahkan ego. Dua hati yang pernah memiliki mimpi yang sama akhirnya harus berakhir dalam luka.

Bukan karena cinta itu mati, melainkan karena masing-masing hati telah memilih jalannya sendiri.

Bukan untuk bersama. Bukan pula sekadar berpisah. Melainkan mengalah— agar cinta tetap hidup, meski harus disimpan bersama luka.

Malam itu aku melangkah masuk ke kamar. Di sana kulihat istriku, Sinta, duduk diam dengan air mata yang jatuh perlahan.

Tatapannya tertuju padaku, penuh sayang— sayang yang tenang, dewasa, dan tulus.

Aku mendekat dengan langkah pelan. Kulembutkan suaraku saat bertanya,

“Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis?”

Sinta tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan sebuah buku kecil ke arahku.

Diari itu. Yang kusimpan rapat sepuluh tahun lalu.

“Aku baru saja selesai membacanya,” ucapnya akhirnya.
Tentang kisah cintamu.

Aku terdiam.

“Aku merasa menjadi wanita yang beruntung,” lanjutnya pelan, “mencintai kamu dalam keadaan kamu yang sekarang— sudah mapan, memiliki segalanya.”

Ia mengusap air matanya sendiri, lalu tersenyum tipis.

“Rumah ini, mobil ini, dan jabatanmu sebagai kepala wilayah di atas BM perusahaan ini… semua itu hasil dari kegigihanmu.”

Ia menatapku lebih dalam.

“Ternyata selama ini kamu bekerja sekeras itu bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk melupakan Fitri.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku bahagia,” katanya jujur, “karena kamu membuka hatimu untuk mencintaiku.”

Namun ia terdiam sejenak, seolah menimbang kata-kata berikutnya.

“Fitri adalah orang yang beruntung,” lanjutnya, “karena ia mengenalmu lebih dulu, mencintaimu saat kamu masih berada di titik paling sulit.”

Aku tahu, cinta pada masa itu adalah cinta yang tak bisa ditiru oleh keadaan apa pun.

Aku menatap wajah cantik istriku. Kucium keningnya perlahan. Kusap air matanya dengan penuh rasa syukur.

“Fitri adalah masa laluku,” ucapku lirih. “Kamu adalah masa depanku.”

Aku menggenggam tangannya.

“Dan anak kita, Rizal… adalah duniaku.”

Sinta tersenyum. Tangisnya berhenti.

Biarlah masa lalu menjadi mimpi dalam kenangan. Bukan untuk disesali, melainkan untuk dipahami.

Dan untuk sisa hidupku, aku memilih berjalan bersama orang yang ada di hadapanku sekarang— dengan cinta yang tenang, dan hati yang telah belajar mengalah.

Bab 28 – Pagi yang Tetap Berjalan

Pagi itu datang begitu cerah. Secerah harapan. Seindah wajah Sinta yang sejak subuh sudah sibuk menyiapkan keperluan kami bertiga untuk berlibur ke Pancur Aji, air terjun yang terkenal di Sanggau.

Aku sudah memanaskan mobil. Sambil menunggu, aku dan Rizal bermain bola di depan rumah setelah selesai salat Subuh.

Dari dalam rumah terdengar suara Sinta, “Sayang, mandi dulu… nanti kesiangan.”

Tak lama kemudian ia memanggil lagi, “Bang, mandi gantian sama ayah ya. Mama sudah siap.”

Namun aku dan Rizal terlalu asyik bermain. Aku lalu menegurnya sambil tersenyum, “Bang, sudah… nanti mama marah lo.”

“Iya, Yah,” jawab Rizal sambil berlari kecil masuk ke rumah.

Aku tersenyum melihatnya.

Sepanjang perjalanan, tawa memenuhi mobil. Rizal yang masih kelas satu SD begitu ceria— polos, lucu, dan penuh cerita. Aku dan Sinta hanya saling pandang, menikmati kebahagiaan sederhana itu.

Sesampainya di Pancur Aji, pengunjung sudah ramai. Kami memarkir mobil lalu berjalan masuk.

Air terjun itu begitu indah. Airnya jernih, bebatuan basah berkilau, ikan-ikan kecil berenang ke sana ke mari.

Meski ramai, suasana hutan tetap menghadirkan ketenangan. Kami bercanda, tertawa, Sinta sibuk menjaga Rizal agar tidak terpeleset di bebatuan.

Sesaat aku melamun. Satu nama tiba-tiba terlintas.

Fitri.

Namun lamunanku terhenti ketika aku memandang Sinta— wajahnya tetap manis, perhatiannya penuh, cintanya nyata.

Tiba-tiba pandanganku bertemu dengan sepasang mata yang tak asing. Ibu Fitri.

Ia tersenyum lembut lalu mendekat. Dengan suara bergetar, ia meminta maaf atas kejadian sepuluh tahun lalu— atas sikap suaminya, atas luka yang ditinggalkan, juga atas nama Fitri.

Aku tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah melupakan semuanya. Sekarang saya sudah memiliki istri dan anak.”

Kutunjukkan Sinta dan Rizal yang sedang bermain air.

Wajah ibu Fitri berubah sendu. Ia lalu bercerita— Fitri tidak menikah. Ia merantau ke Surabaya, membangun usaha, dan berhasil.

Namun takdir kembali menguji. Ayah Fitri meninggal seminggu lalu. Dan hari ini, Fitri ikut ke Pancur Aji untuk menenangkan hatinya.

“Andai saja kamu bisa menunggu sepuluh tahun itu…” ucap ibu Fitri pelan. “Ibu rela… kalian bersama.”

Aku menarik napas panjang.

“Bu, takdir berkata lain,” ucapku lirih. “Jika harus jujur, hati saya belum sembuh untuk mencintai Fitri kembali. Dan waktu tidak merestui kebersamaan itu.”

Aku menoleh ke arah Sinta dan Rizal. “Mereka sudah memenuhi hati saya.”

Aku mengangguk hormat. “Doa saya selalu yang terbaik untuk Fitri. Semoga Ibu dan Fitri bahagia.”

Aku memandang ke arah air terjun.

Di sana, Fitri berdiri membelakangi kami. Menikmati pemandangan tanpa menyadari kehadiranku.

Tiba-tiba ia berdiri… lalu membalikkan badan.

Sepuluh tahun kami tak pernah bertemu. Kini kami saling menatap— dari jarak yang tak bisa lagi didekatkan.

Tatapan itu sama seperti dulu. Seperti saat kami pertama kali jatuh cinta.

Namun kali ini, aku tidak melangkah mendekat.

Aku hanya tersenyum dalam diam.

Karena ada cinta yang memang ditakdirkan untuk tinggal sebagai kenangan.

Tamat.


#cintatakbersatu #kehilanganabadi #mengalahdemicinta #novelromantis #kisahnyata #cintapertama #takdirhidup #lukaikhlas #ceritakehidupan #romanindonesia #dramacinta #kisahsedih #ceritabaper #akhircerita

Kata Penutup

Tidak semua cinta ditakdirkan untuk kembali. Sebagian hanya hadir untuk mengajarkan arti kehilangan, dan bagaimana cara tetap berjalan meski hati pernah patah.

Fitri akan selalu tinggal sebagai nama yang diam-diam kusebut dalam doa. Bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang tanpa penyesalan.

Sinta adalah pilihan yang kujaga, bukan karena melupakan masa lalu, tetapi karena aku belajar bahwa cinta sejati adalah tentang tanggung jawab.

Dan hidup akan selalu berjalan ke depan, meski sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa kita pernah mencintai dengan tulus.

Catatan Penulis

Kisah ini tidak lahir dari rencana yang matang. Ia tumbuh perlahan, seiring perjalanan rasa dan waktu.

Apa yang tertulis di sini bukan tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana manusia belajar mengalah demi menjaga apa yang telah dipilihnya.

Jika dalam cerita ini ada cinta yang tidak kembali, itu bukan karena ia gagal, tetapi karena ia telah menyelesaikan tugasnya— mengajarkan arti kehilangan, keikhlasan, dan kedewasaan.

Terima kasih kepada pembaca yang telah berjalan bersama kisah ini hingga akhir. Semoga setiap luka yang terbaca menjadi pengingat bahwa kita pernah mencintai dengan tulus.

Komentar