Entri yang Diunggulkan

EXCELLENT SERVICE

Inspirasi Pagi: Kekuatan Pelayanan Prima dan Motivasi yang Menyala Oleh: Eeng Kota Sanggau Tanggal: Senin, 28 April 2025 Di sebuah sudut kota Victoria, British Columbia, berdiri sebuah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang tidak biasa. Dimiliki oleh seorang pebisnis sekaligus motivator inspiratif bernama Dunsmuir, SPBU ini bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar, tetapi juga simbol pelayanan prima dan semangat kerja yang luar biasa. Kisahnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kerja keras, ketulusan, dan motivasi dapat mengubah pekerjaan sederhana menjadi batu loncatan menuju kesuksesan. Pelayanan yang Mengesankan di SPBU Dunsmuir Berbeda dengan kebanyakan SPBU di Amerika Serikat yang menerapkan sistem self-service , SPBU milik Dunsmuir menawarkan pengalaman pelayanan penuh. Setiap mobil yang datang disambut oleh empat pekerja muda yang bekerja dengan cekatan dan penuh semangat: Peke...

nama yang ku sebut dalam do,a part 1


Setelah semua yang terjadi, aku tersadar… hidup ini penuh dengan kejutan dan takdir yang kadang tak bisa kita duga.


Aku belajar bahwa cinta bukan soal memiliki, tapi tentang hadir di saat dibutuhkan, memberi tanpa pamrih, dan ikhlas melepaskan jika bukan jodoh.

Epilog
Setelah semua yang terjadi, aku tersadar… hidup ini penuh dengan kejutan dan takdir yang kadang tak bisa kita duga. Aku belajar bahwa cinta bukan soal memiliki, tapi tentang hadir di saat dibutuhkan, memberi tanpa pamrih, dan ikhlas melepaskan jika bukan jodoh.
Tari kini tersenyum di sisiku, bukan hanya sebagai sosok yang pernah kubantu, tapi sebagai bagian dari hidupku yang nyata. Setiap detik yang kami lalui, dari kekhawatiran di rumah sakit hingga perjalanan panjang yang melelahkan, terasa begitu berharga.
Aku menatap wajahnya yang tenang, dan hatiku berbisik: mungkin perjalanan panjang ini bukan sekadar soal sakit dan kesembuhan, tapi tentang memahami arti cinta, kesabaran, dan keberanian untuk membuka hati.
Dan saat aku menarik napas panjang menatap langit senja, aku tahu satu hal: jika cinta tulus, takdir akan menemukan jalannya. Tak perlu buru-buru, tak perlu takut. Yang penting, kita hadir, berani mencintai, dan ikhlas menjalani semuanya bersama.
Akhir yang indah bukan soal kebetulan, tapi soal kesabaran, pengorbanan, dan keberanian hati.



Bab 1



Akhirnya, setelah menjaga jarak yang tiada pasti, tiga bulan berlalu. Aku mencoba melupakan, meskipun perih itu tidak pernah benar-benar pergi.

Pelan dan pasti, sedikit demi sedikit, hati ini belajar mengikis bayangannya. Bukan karena aku sudah kuat, tapi karena waktu memaksa aku bertahan.

Namun suatu hari, tanpa pernah aku duga, telepon itu berbunyi. Namanya muncul di layar.

Aku mengangkatnya dengan hati yang tiba-tiba bergetar. Dari seberang sana terdengar suaranya lirih, lemah, seperti menahan sakit. Ia meminta tolong—menjemputnya di pelabuhan kabupaten dan membawanya ke rumah sakit.

Saat aku tiba dengan sepeda motor, aku tahu ada yang tidak beres. Wajahnya pucat, tubuhnya menahan nyeri. Rupanya sakit itu datang kembali—usus buntu yang pernah dioperasi ternyata kambuh dan terluka lagi.

Aku menatap wajahnya. Wajah yang tetap indah dan cantik meski kesakitan. Dadaku terasa nyesak.

Semua rasa bergejolak dalam satu waktu: sayang, kasihan, bahagia, dan cemas bercampur jadi satu.

Aku tahu, mungkin ini hanya sebatas bantuan. Mungkin baginya aku hanyalah orang yang kebetulan bisa menolong. Namun saat itu, duniaku terasa hidup kembali—meski aku sadar, perasaanku bisa saja bertepuk sebelah tangan.

Aku tidak berpikir terlalu jauh. Yang aku tahu hanya satu:

saat ini, dia membutuhkan pertolongan.

Dan tanpa ragu, aku ada di sana.

Bab 2

Dia berusaha tersenyum saat matanya bertemu denganku.
Senyum yang dipaksakan, tapi cukup untuk membuat dadaku makin sesak.
Tatapan wajahku yang penuh kekhawatiran seolah ingin dia tenangkan, meski jelas justru dia yang sedang menahan sakit.

Aku sempat bertanya pelan,
“Bisa ikut naik motor?”

Namun dia tak mampu menjawab.
Bibirnya hanya sedikit bergerak, lalu diam.

Keringat membasahi dahinya. Wajahnya pucat, sayu, tapi anehnya justru membuatnya terlihat semakin cantik—cantik yang menyayat, bukan yang menenangkan.
Aku bisa melihat jelas rasa sakit yang ia tahan, dan itu membuatku tak sanggup berpikir lama.

Melihat reaksinya yang tak mampu menjawab, aku langsung berkata, tanpa menunggu apa pun,
“Tunggu di sini. Aku cari mobil.”

Aku berlari mencari pinjaman mobil dari teman-teman, tak peduli bagaimana caranya.
Yang penting satu: aku harus kembali secepat mungkin.

Tak lama kemudian aku datang lagi, kali ini dengan mobil.
Aku mendekatinya, membuka pintu, lalu bertanya lagi dengan suara lebih lirih,
“Bisa berdiri?”

Dia tetap tak mampu menjawab.
Tubuhnya juga tak sanggup bergerak.
Kesakitan itu terlalu kuat.

Ia hanya memandangku.
Tatapan itu seperti berbicara tanpa suara—
terserah mau dibawa bagaimana, yang penting aku bisa sampai ke rumah sakit.

Dan di saat itu, aku tahu:
tak ada lagi ruang untuk ragu.
Yang ada hanya satu tugas—membawanya pergi dari rasa sakit ini.

Bab 3

Akhirnya, dengan mantap aku menggendong dia. Sambil berbisik pelan, hampir tak terdengar, “Maafkan aku…”

Aku membawanya masuk ke dalam mobil. Tubuhnya ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang sedang menahan sakit sedalam itu. Dan entah kenapa, di saat itu, dadaku justru terasa berat.

Aku langsung melaju ke UGD rumah sakit.

Namun sesampainya di sana, kenyataan tak seindah harapanku. UGD penuh. Perawat terlihat kewalahan, dan mereka tak mampu langsung membantunya.

Saat itu kepalaku panas. Panik bercampur emosi. Aku merasa waktu berjalan terlalu lambat sementara dia semakin lemah.

Aku mulai meninggikan suara, mendesak perawat agar segera menanganinya. Nada bicaraku keras, bukan karena marah semata, tapi karena takut kehilangan.

Di tengah kekacauan itu, dia justru menatapku. Dengan mata yang sayu, dan suara yang lirih, dia berkata, “Bang… sabar sedikit…”

Kalimat pendek itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Aku menatap matanya. Mata yang menahan sakit, tapi masih berusaha menenangkanku.

Namun aku tak bisa diam. Aku kembali mendesak perawat. Aku bertanya, “Dokternya mana?”

Perawat menjawab, dokter sedang sibuk. Aku bertanya lagi, siapa dokter yang piket malam itu.

“Dokter V, Bang,” jawab perawat.

Jantungku seperti berhenti sesaat. Dokter V. Kebetulan yang tak pernah aku rencanakan—dia kawan lamaku.

Tanpa pikir panjang, aku langsung menelponnya. Aku ceritakan semuanya dengan suara terburu-buru, tak karuan. Dan tak lama setelah itu, dia datang dengan tergesa-gesa.

Saat melihatnya datang, untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa sedikit bernapas.

BAB 4

Penanganan akhirnya berjalan normal.

Setelah obat bekerja, dia mulai sedikit sadar. Dokter dan perawat bergerak lebih sigap. Dia dipindahkan ke tempat baring, dipasang infus, dan keadaannya perlahan lebih terkendali.

Tak lama kemudian seorang perawat datang membawa berkas.

“Bapak siapa dari pasien?”
“Siapa yang akan bertanggung jawab?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Tanpa sempat berpikir panjang, tanpa menimbang apa pun di kepala, hatiku lebih dulu menjawab sebelum logika sempat menahan.

Dengan suara mantap aku berkata,
“Saya suaminya.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan di mulut, tapi berat di dada.

Perawat hanya mengangguk, lalu menyerahkan berkas kepadaku. Aku menandatangani semua yang diminta.

Setelah itu dokter menjelaskan dengan nada serius. Lukanya harus dioperasi ulang. Risikonya ada, tapi harus dilakukan secepatnya.

Tanpa ragu, aku mengiyakan. Tak ada ruang untuk bimbang. Yang ada hanya satu pikiran: dia harus selamat.

BAB 5

Setelah semua berkas selesai, suasana sedikit lebih tenang.

Tiba-tiba dia memanggilku. Suaranya lemah, tapi jelas.

Dia memintaku menelpon orang tuanya di kota provinsi.

Saat itu, dia menatap wajahku. Tatapan yang lembut. Dengan senyum tipis—seakan mengiyakan semua yang barusan terjadi. Seakan membenarkan kalimat yang tadi keluar dari mulutku: suaminya.

Dadaku bergetar. Namun cepat-cepat perasaan itu aku singkirkan. Aku sadar, mungkin ini hanya perasaanku sendiri. Aku tak boleh larut.

Aku meraih ponselnya. Dia justru menyuruhku yang berbicara.

Aku merasa aneh. Kenapa bukan dia sendiri?

Namun tanpa membantah, aku menerima. Saat sambungan terhubung, suara bapaknya terdengar mengucap, “Halo.”

Aku memperkenalkan diri pelan. Lalu kuceritakan semuanya dari awal—dari sakitnya, kondisi di pelabuhan, hingga keputusan operasi ulang.

Aku juga meminta izin untuk tindakan medis itu.

Di ujung telepon, bapaknya terdiam sejenak. Lalu dengan suara berat, dia mengiyakan.

Mereka menitipkan putri mereka kepadaku. Malam itu juga mereka akan berangkat dari kota provinsi. Perjalanan sekitar tujuh jam.

Saat panggilan berakhir, aku menatap dia yang terbaring lemah. Aku bukan siapa-siapa. Tapi malam itu, semua orang mempercayaiku menjaganya.

Dan aku tahu, tanggung jawab itu jauh lebih berat dari sekadar kata suami yang terucap tanpa sengaja.

Bab 6

Akhirnya aku tertidur di UGD, menjaga seseorang yang diam-diam kuharapkan menjadi bagian dari hidupku—meski aku juga sadar diri, berharap sejauh ini saja sudah terlalu jauh.

Operasi berjalan lancar. Dia terlelap dengan wajah yang tenang. Aku berdiri di sampingnya, memandang wajah ayu yang tertidur pulas itu. Entah kenapa, air mataku menitis begitu saja. Spontan. Tanpa aba-aba.

Aku tersenyum di antara air mata yang terus mengalir.

Semakin lama kupandangi wajah cantik yang terbaring di hadapanku, semakin terasa sesuatu di dalam dadaku mengendur. Perlahan, aku mulai belajar ikhlas. Jika memang harus kehilangan dia, mungkin inilah jalannya. Mungkin semua ini hanyalah sebatas permohonan tolong. Bukan niatnya membuka hati. Bukan takdirku untuk memiliki.

Pikiran itu menyakitkan, tapi anehnya juga menenangkan.

Setelah lama berdiri memandanginya, tubuhku terasa lelah. Aku pun duduk, lalu merebahkan diri di kursi di samping tempat tidurnya. Dalam posisi seadanya, aku memejamkan mata.

Malam itu, di ruang UGD yang dingin dan sunyi, aku tertidur dengan perasaan yang tak lagi sama—antara pasrah, ikhlas, dan cinta yang kupendam diam-diam.

BAB 7

Mungkin karena terlalu lelah—tenaga, pikiran, dan kecemasan bercampur jadi satu—aku tertidur dengan nyenyak. Begitu nyenyak sampai aku tak sadar waktu telah berjalan jauh.

Saat aku terbangun, cahaya pagi sudah masuk samar ke dalam ruangan. Hal pertama yang kulihat membuatku terdiam.

Empat orang berdiri di dekat tempat tidur.

Mereka tidak ribut. Tidak berbicara. Seolah sengaja menunggu aku benar-benar membuka mata. Bapaknya, ibunya, abang lelakinya… dan dia.

Begitu aku sepenuhnya sadar, mereka tersenyum bersamaan.

Bapaknya lebih dulu menyapa, suaranya tenang namun hangat. “Terima kasih ya, sudah bantu Tari.”

Di sela-sela itu, mamanya ikut berbicara dengan nada penuh perhatian. “Kamu kecapekan.”

Abang lelakinya hanya tersenyum puas ke arahku. Senyum yang sulit kuterjemahkan maknanya.

Aku mengangguk pelan. Masih bingung dengan situasi ini. Lalu tanpa sadar, pandanganku beralih kepadanya.

Dia tersenyum lebar. Senyum miring yang sederhana, namun entah kenapa terasa berbeda pagi itu.

Aku semakin bingung. Ada sesuatu di udara. Seperti mereka baru saja menemukan sesuatu—sesuatu yang bahkan aku sendiri belum paham. Tapi aku memilih untuk tidak berpikir terlalu jauh.

BAB 8

Aku pun tersenyum dan menyapa pelan. “Kapan om, tante, abang sampai?”

Obrolan ringan pun mengalir. Tentang perjalanan malam, rasa lelah, dan hal-hal sederhana lainnya. Semua terdengar biasa, tapi hatiku tidak.

Tanpa sadar, aku kembali menoleh kepadanya. “Gimana sekarang? Sudah mendingan? Masih terasa sakit?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Refleks. Kekhawatiran di dadaku tak bisa kusembunyikan.

Dia menjawab dengan senyum tipis, seolah ingin menenangkanku. Tapi itu tidak cukup untuk meredam perasaanku.

Aku tahu posisiku. Aku sadar batasanku. Namun sekeras apa pun aku mencoba menjaga jarak, hatiku tetap membocorkan rasa itu.

Mungkin karena cinta yang sudah terlanjur dalam. Mungkin karena sejak awal, aku memang tak pernah pandai berbohong pada perasaanku sendiri.

BAB 9 – Pamit yang Tidak Pernah Benar-Benar Siap

Aku pelan berdiri. Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menahan langkahku sejak awal. Dengan suara yang kubuat setenang mungkin, aku memohon izin untuk pamit pulang.

Mungkin tugasku memang sudah selesai.
Keluarganya sudah datang.
Ada bapaknya, ibunya, dan abangnya yang kini bisa menjaga dia sepenuhnya.

Dan hidupku… harus kembali ke jalur normal.

Aku tersenyum tipis, mencoba menutupi perasaan yang bergejolak. Basa-basi pun keluar dari mulutku—aku bilang aku kelelahan, ingin pulang dan beristirahat di rumah. Kata-kata yang terdengar biasa, padahal hatiku sedang tidak baik-baik saja.

Perlahan aku berpamitan.
Senyumku tertahan.
Dadaku terasa kosong.

Jujur, aku ingin tetap di sana. Ingin duduk lebih lama. Ingin memastikan dia benar-benar baik-baik saja. Tapi kesadaranku lebih dulu menarikku kembali ke kenyataan—posisiku bukan posisi yang ideal untuk berlama-lama.

Aku bukan siapa-siapa.

Dengan langkah berat, aku meninggalkan ruangan itu. Setiap langkah menjauh terasa seperti mengoyak sesuatu di dalam dada. Hingga akhirnya aku sampai di parkiran.

Di sanalah semuanya runtuh.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Tangisku pecah, sejadi-jadinya. Aku tidak peduli siapa yang melihat. Saat itu, hanya ada rasa kehilangan yang begitu nyata, meskipun aku belum benar-benar kehilangan.

BAB 10 – Panggilan yang Mengubah Arah

Di tengah tangisku yang belum reda, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namaku.

“Bang… bisa bantu tante?”

Aku terdiam.
Suaranya tidak asing.

Aku menoleh dengan mata yang masih basah. Dan di sanalah dia berdiri—ibunya. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya hangat dan tenang.

“Tante juga capek,” katanya lembut.
“Ingin mandi, istirahat sebentar. Boleh numpang ke rumah kamu? Sekalian… tante ingin kenalan sama kedua orang tua kamu.”

Kata-kata itu menghantamku tanpa aba-aba.

Aku terpaku.
Kaget.
Bingung.
Dan entah kenapa… hatiku bergetar.

Aku tidak langsung menjawab. Otakku seperti berhenti bekerja. Baru saja aku mencoba mengikhlaskan, baru saja aku memaksa diri untuk pergi, lalu kini aku dipanggil kembali—bukan oleh dia, tapi oleh ibunya.

Seakan takdir berkata: tunggu dulu.

Aku menatap wajah tante itu. Ada sesuatu dalam caranya memandangku—bukan sekadar permintaan tolong. Ada kepercayaan. Ada penerimaan. Ada makna yang belum sempat kupahami sepenuhnya.

Dan saat itulah aku sadar…
Kadang, hidup tidak membiarkan kita pergi begitu saja, sebelum ia sendiri selesai dengan ceritanya.

BAB 11 – Kalimat yang Mengguncang Dunia

Setelah ibu mandi dan kami beramah tamah seadanya, beliau memohon diri untuk kembali ke rumah sakit. Suasana rumah tiba-tiba terasa lebih sunyi, seolah semua suara ikut pergi bersamanya.

Sebelum melangkah keluar, ibu berhenti.

Ia menatap wajahku—tepat ke mataku.

Tidak ada kata di awal. Hanya tatapan yang dalam, seakan ingin memastikan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya pahami.

Lalu beliau tersenyum.

“Kalau jodohmu… dia akan jadi milikmu,” ucapnya pelan.
“Kalau takdir bukan untukmu, maka keikhlasanmu bisa mengubah sesuatu.”

Aku menelan ludah. Dadaku terasa bergetar.

“Semoga kamu mendapatkan orang yang bisa membuat kamu bahagia,” lanjutnya lembut.
“Terima kasih atas pengorbananmu untuk anak tante.”

Suaranya tenang, pelan, hampir seperti bisikan. Namun setiap katanya terasa berat—seakan mengguncang dunia kecil yang selama ini coba kutata sendiri.

Aku tersenyum kecut. Wajahku terasa memerah.

Tidak ada kata yang sanggup keluar.

Aku hanya mengangguk pelan, menunduk sedikit, sambil menatap langkah ibu itu menjauh. Hingga pintu tertutup, dan aku kembali sendiri dengan pikiranku—dan perasaan yang belum juga menemukan nama.

BAB – Dari Jauh

Setelah kepergian tante dari rumah malam itu, terasa berat bagiku untuk memejamkan mata. Kalimat-kalimatnya terus terngiang-ngiang di kepala, berputar tanpa henti. Aku mencoba memaknai semuanya—apa arti ucapan itu untuk diriku? Apakah itu isyarat bahwa Tari mencintaiku?

Namun logikaku segera menyangkalnya. Rasanya tidak mungkin.

Pikiranku carut-marut. Tak ada satu pun jawaban yang kutemukan. Hingga akhirnya kelelahan mengalahkan segalanya, dan aku tertidur lelap tanpa membawa satu kepastian pun.

Paginya aku terbangun masih dengan perasaan yang sama—linglung, kosong, seperti seseorang yang kehilangan arah. Aku merasa lelah memikirkan hal-hal yang tak bisa kupahami. Akhirnya aku memutuskan melanjutkan rutinitas pekerjaanku seperti biasa, mencoba kembali hidup normal meski hati belum sepenuhnya tenang.

Sesekali terlintas keinginan untuk bertanya kabarnya—tentang keadaannya di rumah sakit, tentang apakah ia sudah benar-benar pulih. Namun kesadaran menahanku. Ada batas yang kupahami, meski perasaanku sering kali ingin melanggarnya.

Aku mencoba untuk tidak pergi.

Namun pikiranku sudah lebih dulu melangkah.

Tanpa sadar, motorku melaju menuju rumah sakit. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri dari kejauhan, menatap apa yang bisa kulihat.

Tari tampak jauh lebih baik. Ia tersenyum, bercanda dengan keluarganya. Wajahnya cerah, sehat—dan pemandangan itu membuatku lega.

Aku bahagia melihatnya seperti itu.

Namun di saat yang sama, ada pedih yang harus kutahan sendiri.

Aku tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa mendekat, tanpa menyapa, aku memilih melangkah pergi. Menjauh dari rumah sakit itu, membawa perasaan yang belum sepenuhnya selesai.

BAB 13 – Telepon yang Mengulang Segalanya

Selang lima hari, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Keluarganya berinisiatif membawanya ke kota provinsi terlebih dahulu untuk pemulihan, sekaligus mengurus izin cuti ke dinas pendidikan karena sakit.

Hari itu aku mencoba menjalani hidup seperti biasa. Hingga tiba-tiba ponselku berdering. Nomor baru. Aku sempat heran sebelum mengangkatnya.

Begitu suara di seberang terdengar, aku langsung mengenalnya. Itu suara ibunya.

Dengan nada lembut beliau bertanya, “Bang, sibuk dak?”

Aku terdiam sejenak.

“Ibu mau minta bantuan,” lanjutnya pelan. “Abangnya Tari kurang enak badan, dak sanggup bawa mobil. Bapaknya juga dak kuat nyetir jauh. Bisakah abang bantu antar kami ke kota provinsi?”

Aku tertegun. Hati ini seperti tersenyum, tapi bersamaan dengan itu kepalaku penuh tanda tanya.

Kenapa lagi aku harus bertemu? Kenapa lagi aku harus melihatnya, padahal aku baru saja belajar menjauh?

Namun di tengah kebingungan itu, perasaanku tetap condong ke satu arah. Dengan suara pelan aku menjawab, “Iya, Bu. Insyaallah saya siap antar.”

Hari itu juga aku kembali ke rumah sakit.

BAB 14 – Perjalanan yang Terasa Singkat

Saat aku tiba, pandangan kami bertemu. Tidak lama. Tidak juga canggung. Kami hanya saling tersenyum tipis.

Namun mataku tak bisa berbohong. Ikatan yang telah tumbuh begitu dalam rasanya tak mungkin lagi kusembunyikan. Ada bahagia yang menyusup di hati, meski kebingungan tetap menyelimuti perasaan itu.

Tatapan matanya seakan berkata sesuatu. Seolah ia ingin mengatakan bahwa perasaannya sama denganku.

Namun tidak ada kata. Hanya senyum.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa kikuk. Kami hanya sesekali bercanda dengan bapak dan ibunya. Ia sendiri lebih banyak diam.

Aku beberapa kali melirik dari kaca spion, dan setiap kali itu pula kudapati ia sedang menatapku dengan senyum manis.

Senyum yang membuat perasaanku semakin tak karuan.

Tujuh jam perjalanan terasa berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, kami sudah sampai di rumah mereka. Karena hari sudah malam, aku pun harus menginap.

Malam itu, aku kembali dihadapkan pada perasaan yang sama: antara ingin melangkah maju, dan takut melangkah terlalu jauh.

Bab 16: Perjalanan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Selang lima hari kemudian, akhirnya dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Keluarganya memutuskan membawanya lebih dulu ke kota provinsi untuk pemulihan, sekaligus mengurus izin cuti ke Dinas Pendidikan karena sakit.

Siang itu, ponselku kembali berdering. Nomor baru. Aku sempat heran, namun saat kuangkat, suara di seberang sana terdengar sangat familiar. Itu suara ibunya Tari.

Dengan lembut beliau berkata, “Bang, sibuk dak? Ibu perlu minta bantuan.” Hatiku langsung terasa aneh.

Beliau melanjutkan, anak ibu yang tua—abangnya Tari—sedang tidak enak badan, tak sanggup membawa mobil. Bapaknya pun tak kuat menyetir jauh. Apakah aku bisa membantu mengantar mereka ke kota provinsi?

Aku terdiam sejenak. Hati ini tersenyum, tapi pikiranku bingung. Kenapa, saat aku mulai belajar melupakan, justru takdir membawaku bertemu lagi?

Namun seperti biasa, hati ini selalu menang. Dengan suara pelan aku menjawab, “Oke, Bu. Saya siap antar.”

Hari itu aku kembali ke rumah sakit. Kami saling berpandangan mata—tanpa kata, hanya senyum kecil. Aku tahu, dan dia tahu, perasaan itu belum pergi.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung. Sesekali kami bercanda bersama bapak dan ibunya, namun dia lebih banyak diam. Aku beberapa kali melirik lewat kaca spion, dan setiap kali itu pula aku mendapati dia menatapku dengan senyum manis.

Tujuh jam perjalanan terasa begitu singkat. Kami tiba malam hari di rumah mereka, dan karena sudah larut, aku diminta untuk menginap.

Bab 17: Di Depan Pintu Takdir

Malam itu aku tak bisa tidur. Aku menatap langit-langit beton kamar rumah mereka. Rumah yang indah, kehidupan yang mapan.

Bapaknya pensiunan PNS, ibunya guru, abangnya juga aparatur negara. Sejak kecil, hidup mereka nyaris tanpa kekurangan.

Tanpa terasa, azan subuh berkumandang. Aku bangkit hendak ke masjid. Di tangga, aku berpapasan dengannya. Dia sudah siap dengan pakaian salat. Kami saling menatap, lalu dia berkata pelan, “Pergi bareng?”

Aku mengangguk. Kami berjalan kaki dengan jarak—karena kami bukan mahram.

Sepanjang jalan aku diam. Dia memulai percakapan, menanyakan istirahatku, apakah tidurnya nyenyak. Aku melirik wajahnya sekilas, lalu menjawab pelan, “Aku tak bisa tidur. Masih lelah perjalanan.”

Setelah itu, diam. Seribu bahasa. Padahal dulu, momen seperti ini yang selalu kuharapkan. Entah kenapa kini justru terasa kikuk. Mungkin karena sikapnya yang berubah, atau mungkin karena hatiku yang takut berharap.

Pagi harinya, kami sarapan bersama. Namun saat aku menyampaikan niat untuk pulang ke kabupaten dengan taksi, raut wajah mereka berubah. Ibunya menatapku dalam-dalam sambil menarik napas. “Yakin mau pulang sekarang?”

Ayahnya menimpali, “Tak mau mikir lagi? Mau pulang?” Aku tetap mengangguk. Abangnya mencoba menahan, “Nanti saja, tunggu Tari masuk sekolah, baru pulang sama-sama.”

Aku tersenyum tipis. “Maaf, rasanya saya tak bisa berlama-lama.”

Setelah pamit, aku melangkah keluar. Di depan rumah itu aku berhenti, menoleh sekali lagi. Aku menarik napas panjang. “Hem… ternyata memang bukan jodohku.”

Aku mantap melangkah. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “Katanya cinta, kenapa aku ditinggalin?”

Aku berhenti. Hatiku berdebar. Perlahan aku menoleh. Dia berdiri di sana. Tari. Dengan senyum lebar dan tatapan yang menembus dadaku.

Aku berkata pelan, “Bukankah kamu sudah punya calon suami?” Dia tersenyum. “Iya. Memang.”

“Dia sekarang ada di depan mata aku.” Aku bingung. Bahagia, tapi takut terlalu percaya diri. “Maksudmu…?” tanyaku. “Calon suamiku kamu. Memang kamu tak mau menjadikan aku istri?”

Aku tersenyum lebar. Dengan suara tegas dan hati yang yakin aku menjawab, “Mau.”

Tamat.


#CintaTakTerduga #CeritaRomantis #DramaKehidupan #KisahHati #CintaSejati #PerjalananHati #TakdirCinta #PertemuanTakdir #CintaDiamDiam #CeritaImersif #HatiYangTersentuh #KasihDanPerhatian #CintaDalamSunyi #CeritaHidupNyata #RomansaMenyentuh

Komentar